Ben refleks berdiri begitu mendengar laporan sekuriti. Kursinya bergeser kasar, menciptakan bunyi nyaring di tengah keheningan yang tegang. Tanpa banyak kata, ia melangkah cepat menyusul ayahnya di teras. “Biar aku saja yang temui, Pa,” ujar Ben tegas, berusaha menahan langkah papanya. Namun, Pak Benny justru mengangkat alis, tatapannya berubah heran. “Kalau memang mencari orang tua kamu, berarti urusannya bukan hal sepele, Ben,” ucapnya tegas menolak. Mama Intan yang sejak tadi diam, kini ikut bangkit. “Perempuan dengan anak kecil? Mama juga mau lihat, sebentar ya, Bel.” Namun, Sabella tak kalah sigap, ia pun berdiri sambil membenarkan kerudung. “Ini jelas bukan kebetulan andai yang di luar itu adalah mereka,” gumam Sabella. Ben menghela napas, ekspresinya jauh lebih tegang saat mamanya keluar dan Sabella pun menyusul. “Kalian … buat apa?” Ben kehabisan kata-kata saat perempuan berdua itu menyampaikan niat untuk ikut. “Sudah,” potong Pak Benny. Ia menoleh pada sekuriti. “B
閱讀更多