Sepuluh menit sebelumnya. Ben dan Ryker sudah berdiri di depan mesin kopi digital. Suara mesin berdengung pelan saat dua cup kopi panas selesai diproses. Uap tipis mengepul, menguar aroma pahit menenangkan dan membuat candu yang nikmat. “Sudah, ayo balik,” ucap Ryker singkat sambil meraih cup kopinya dari mesin. Uap hangat terus mengepul, menandakan minuman itu belum siap diteguknya.Ben meniup pelan permukaan cup kopinya degan bibir yang sedikit maju, berusaha menurunkan panas lebih cepat. Namun, ia belum berani juga menyeruput. “Sebentar, Ryk,” ujarnya santai dan tidak tampak buru-buru.Ryker melirik sekilas, alisnya sedikit berkerut. “Final sebentar lagi sudah mulai,” katanya mengingatkan meski dengan nada suara tetap datar.Ben hanya mengangkat bahu, terlihat tidak terlalu khawatir. “Masih ada waktu,” balasnya ringan. Ia kembali meniup kopinya, lalu menambahkan dengan nada malas, “Aku ngantuk. Biar melek dulu.” Ryker tidak memaksa. Ia hanya menatap Ben sekilas, lalu berbalik l
閱讀更多