Sabella terkejut bukan main. Tubuhnya yang sempat oleng kini tertahan kokoh dalam dekapan lelaki. Bukan Ben yang sempat membuatnya tenang sebab ia calon tunangannya. Namun, yang telah menangkapnya justru Ryker. Sabella menatap lelaki itu dengan mata membesar. “Mas, terima kasih,” ucapnya samar hampir tak terdengar. Ryker tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya menatap Sabella sejenak sebelum beralih ke depan. Tangannya masih menahan pinggang gadis itu agar tidak kembali kehilangan keseimbangan. “Lebih hati-hati lagi, Bel,” ucapnya tegas, datar, tetapi terasa lebih dalam dari sekadar peringatan biasa. Perlahan ia longgarkan pelukannya. Sabella segera berdiri tegak, menjauh dengan cepat “Maaf …,” ucapnya lirih dengan perasaan tidak menentu. Merasa kesal pada diri sendiri, telah begitu ceroboh di momen sepenting ini. Dari depan, Ben sudah menghampiri dengan wajah yang tegang. “Kamu nggak apa-apa, Bel?” tanyanya cepat. Ia melirik Ryker yang berwajah datar. Andai bukan
Read more