Sabella benar-benar berhenti di depan pintu kaca. Kakinya seolah menolak melangkah lebih jauh. Jemarinya masih berada dalam genggaman Ben, tetapi tubuhnya sedikit tertarik ke belakang sebab kakinya sedang mencengkeram. “Sabella, ada apa denganmu?” tanya Ben seketika sambil menoleh. Menyadari penolakan langkah dari gadis itu. “Mas … nggak perlu,” ucap Sabella pelan, suaranya hampir tenggelam oleh hiruk pikuk suasana di dalam mall. Ben menoleh, keningnya berkerut. “Nggak perlu apa maksud kamu, Bel?” tanyanya heran. Sabella menunduk sesaat, lalu menggeleng kecil. “Aku nggak perlu dibelikan perhiasan lagi. Eh, Mas Ben benar akan membelikan perhiasan padaku kah?” tanya Sabella dan seketika terlihat merona wajahnya. Mengingat mungkin sedang terlalu percaya diri. Ben terdiam. Tangannya yang tadi mantap menggenggam, kini sedikit mengendur. Ia menatap Sabella lebih dalam, mencoba membaca maksud di balik kalimatnya. “Benar, kita beli perhiasan. Lantas, kenapa kamu menolak?” tany
Last Updated : 2026-04-01 Read more