Ruangan dingin itu telah membeku beberapa detik. Ucapan Pak Azis seperti menghantam tanpa aba-aba. Mama Ulfanah, Samuel, dan Sabella tampak ternganga, belum benar-benar mencerna maksudnya. Namun, berbeda dari yang lain, Mama Ulfanah justru perlahan tersenyum. Senyum itu makin lebar, matanya berbinar penuh harap yang memang sejak lama ia simpan. “Pa … apa aku gak salah dengar? Coba, Pa, ulangi lagi,” pintanya pelan, sebab tidak percaya. Pak Azis menoleh pada istrinya, lalu mengangguk kecil. “Papa ingin, agar Ryker … menikah dengan Sabella,” ucapnya dan kali ini begitu jelas. Seketika Mama Ulfanah menghela napas. Merasa lega yang telinganya tidak salah. “Alhamdulillah…” gumamnya, lalu menatap Sabella dengan wajah sumringah. “Mama memang dari dulu berharap begitu.” Ia memandang Samuel dengan rasa yang canggung, tetapi tetap tersenyum. “Maaf ya, Samuel… anggap saja Mama sedang lupa jika kalian tadi mau menikah,” ujarnya jujur, tanpa basa-basi. Ia menangkup dua tangan di dada
閱讀更多