Mama Ulfanah memperhatikan Sabella diam-diam. Sebagai sesama wanita, apalagi sudah melanglang buana, ia cukup peka membaca perubahan raut wajah. Tatapan kosong, senyum yang dipaksakan, dan cara Sabella menunduk terlalu lama … semua itu cukup mengganggunya. Dalam hati, Mama Ulfanah menduga sesuatu. Jangan-jangan, Sabella justru memikirkan Ryker? Ia menghela napas pelan. Sayang sekali. Jika benar begitu, keadaan menjadi semakin rumit. Putranya itu memang sungguh ‘tidak normal’. “Aduh, dasar anak nakal …,” gumamnya lirih, sedikit kesal sekaligus menyayangkan putranya. Mama Ulfanah menatap gadis itu dengan senyum lembut. “Sabella, kalau saja Ryker itu lelaki waras dan mau menikah … Mama pasti akan ikut berusaha mati-matian agar kamu pilih dia,” ucapnya jujur dengan setengah bercanda. “Mah!” tegur Pak Azis cepat dengan nada tegas. Tatapannya tajam menahan kesal dengan polah istrinya. Mama Ulfanah terdiam sejenak dengan mendengus beberapa kali. “Tidak usah bahas Ryker lagi,” lanju
Last Updated : 2026-03-30 Read more