Aroma antiseptik yang menyengat di sepanjang koridor rumah sakit terasa kian menekan dada. Bayu duduk bersandarkan dinding dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya sendiri. Fokus pria itu kini benar-benar terpecah hancur. Lembaran berkas pernikahan, detail dekorasi altar, dan daftar tamu undangan yang baru beberapa jam lalu memenuhi benaknya, mendadak menguap, digantikan oleh grafik detak jantung pada monitor medis di dalam ruang perawatan intensif.Ibu angkatnya, wanita yang menjadi pelindung terakhirnya di masa-masa sulit, sedang berjuang di ambang maut. Di saat yang sama, Cindy, adik angkatnya, duduk di sampingnya dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Isak tangis gadis itu sudah mereda, menyisakan napas yang sesekali tersengal karena kelelahan emosional yang teramat sangat.Cindy perlahan mengulurkan tangannya, mencengkeram ujung kemeja Bayu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, seluruh dunianya akan runtuh detik itu juga."Mas Bayu... tolong jangan pulang
Read More