分享

Bab 306

作者: Kak Han
last update publish date: 2026-06-03 18:59:58

“Secepatnya kita tentukan tanggal pernikahan kita. Nggak perlu pakai lamaran, tunangan, langsung aja kita buat resepsi pernikahan,” ucap Bayu tanpa melepas kan Maudy.

“Kapan Bayu? Apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Maudy.

“Justru aku merasa terlalu lama menunggu jarum jam berputar. Kalau bisa, besok pagi kita adakan resepsinya. Biar aku nggak khawatir lagi ada yang mengganggu calon istriku ini lagi,”

“Bayu! Jangan ngaco! Persiapan resepsi pernikahan mana bisa dadakan dalam 24 jam?” sahut Maud
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 327

    Malam semakin larut, namun suhu di dalam kamar utama itu justru terasa semakin panas, mengalahkan embusan angin dingin dari pendingin ruangan. Penyatuan raga yang semula dimulai dengan kelembutan yang dalam, kini telah berkembang menjadi sebuah pergulatan gairah yang intens dan penuh dengan dominasi keperkasaan Bayu.​Bayu mengubah posisinya dengan gerakan yang lambat namun sangat bertenaga. Ia menumpu tubuh kekarnya dengan kedua lutut dan tangannya, membimbing Maudy untuk berbalik dan mengambil posisi bertumpu pada kedua tangan dan lututnya (doggy style). Gaun tidur satin putih tulang milik Maudy kini sudah tersingkap sepenuhnya, menampilkan lekuk punggung dan pinggulnya yang seksi di bawah temaram lampu kamar.​Maudy melirik ke belakang lewat sudut matanya, napasnya naik-turun memburu dengan wajah yang memerah sempurna. "Bayu... kamu..."​Bayu menarik seulas senyuman nakal di sudut bibirnya. Sisi humorisnya mendadak muncul di tengah debaran dada yang menggila. Ia menundukkan tubuhny

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 326

    Malam pun jatuh sepenuhnya, membawa keheningan yang semakin larut di kamar utama rumah Bayu yang kini telah resmi menjadi kediaman bersama mereka. ​Maudy duduk di tepi ranjang berukuran besar, mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna putih tulang yang senada dengan warna kulitnya. Jemarinya bergerak lambat, menyisir rambut panjangnya yang sengaja digerai bebas. Jantungnya berdegup dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya, ada rasa gugup yang mendadak merayap naik ke dadanya, sebuah perasaan yang wajar bagi seorang wanita yang baru saja melewati hari besarnya.​Pintu kamar mandi perlahan terbuka, menampilkan sosok Bayu yang melangkah keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang tegapnya, memperlihatkan dada bidang dan otot perutnya yang keras. Sisa-sisa air mandi masih menetes lambat di antara lekuk tubuhnya yang kokoh.​Bayu menghentikan langkahnya sejenak, menangkap gurat kegugupan yang terpancar jelas dari raut wajah Maudy. Pria itu menarik seulas senyuman tipis di sudut bi

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 325

    Pagi itu, matahari terbit dengan pendar cahaya yang lembut, menembus sisa-sisa kabut yang menyelimuti pelataran rumah Maudy. Tidak ada karpet merah yang membentang luas, tidak ada deretan papan bunga ucapan selamat yang memenuhi jalanan, dan tidak ada alunan musik megah yang menggema ke sekeliling lingkungan. Yang terdengar hanyalah suara gesekan dedaunan yang ditiup angin pagi, menciptakan suasana yang teramat khidmat, tenang, dan bersahaja.​Di dalam ruang tengah yang telah ditata ulang, sebuah meja kayu panjang berlapis kain putih bersih diletakkan di bagian tengah. Di sekelilingnya, hanya ada beberapa kursi yang disediakan untuk keluarga inti serta petugas pencatatan sipil dari lembaga resmi negara. Meskipun ruangan itu tampak lengang tanpa dekorasi bunga yang mewah, kesucian dari momen yang akan berlangsung terasa begitu nyata menghinggapi dada siapa pun yang hadir.​Maudy melangkah turun dari tangga dengan ritme yang sangat lambat. Ia mengenakan gaun putih polos berbahan satin t

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 324

    Keheningan yang mencekam kembali mengendap di dalam ruang tamu, begitu tebal hingga detak jarum jam dinding pun terdengar bagai ketukan yang mengintimidasi. Silvy masih berdiri dengan bahu yang naik-turun, mengatur napasnya yang sesak setelah menumpahkan seluruh kemarahan dan luka batinnya di hadapan Bayu dan Maudy. Di sisi lain, Bayu hanya bisa terdiam dengan rahang yang mengeras, sementara Maudy menundukkan kepala, membiarkan jemarinya saling meremas satu sama lain di atas pangkuan.​Di tengah-tengah ketegangan yang nyaris mencapai titik didih itu, tiba-tiba sebuah suara dering ponsel yang nyaring memecah keheningan. Bunyi itu berasal dari dalam tas kecil yang dicengkeram erat oleh Silvy.​Dengan gerakan yang kaku dan gemetar, Silvy merogoh tasnya. Begitu melihat nama Ibunya tertera di layar ponselnya, kepanikan yang berbeda seketika menyapu wajah kuyunya. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan terburu-buru.​"Halo, Ibu? Ada apa?" tanya Silvy, suar

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 323

    Suasana di dalam ruang tamu yang semula sudah tegang kini mendadak terasa makin menghimpit dada. Di bawah pendar lampu gantung yang benderang, sosok yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang tersengal menahan amarah dan duka itu akhirnya terlihat jelas.​Wanita itu adalah Silvy.​Istri dari mendiang Baron itu datang tanpa mengenakan riasan sama sekali. Wajahnya yang biasa tampak anggun kini terlihat teramat kuyu, dengan kantung mata yang menghitam dan membengkak akibat tangisan yang tak kunjung reda selama tiga hari berturut-turut. Pakaian hitam yang ia kenakan tampak kusut, mencerminkan betapa hancur dan tidak terurusnya hidup wanita itu sejak sang suami pergi untuk selamanya.​Maudy yang mengenali sosok itu langsung bangkit berdiri dari sofanya dengan gerakan lambat. Sepasang matanya membelalak tidak percaya menatap kedatangan Silvy yang begitu mendadak, apalagi dengan kalimat pembuka yang terasa seperti hantaman godam di dada mereka.​"Bu Silvy..." bisik Maudy teramat lirih, su

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 322

    Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam yang merenggut nyawa Baron. Setelah melalui serangkaian perawatan intensif, proses bilas lambung, dan observasi ketat dari tim dokter spesialis toksikologi, para korban keracunan massal perlahan-lahan dinyatakan membaik. Akhirnya, pada siang hari yang terik itu, pihak Rumah Sakit memperbolehkan sebagian besar pasien untuk pulang ke rumah masing-masing, termasuk Bayu dan Maudy.​Langkah kaki mereka saat keluar dari pintu lobi rumah sakit terasa begitu berat. Harusnya, jika semuanya berjalan sesuai rencana semula, tiga hari kemarin adalah waktu di mana mereka berdua sibuk melakukan gladi bersih, mengecek sentuhan akhir dekorasi gedung, dan menyortir kembali daftar tamu VIP. Namun kenyataannya, semua urusan pernikahan itu terbengkalai total. Berkas-berkas penting menumpuk tanpa tersentuh di sudut meja, koordinasi dengan pihak wedding organizer terputus, dan atmosfer kebahagiaan yang harusnya membumbung tinggi justru menguap, digantikan oleh

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status