Maudy terdiam cukup lama setelah Bayu menyelesaikan rincian rencana gilanya. Maudy menarik napasnya dalam-dalam, membiarkan pasokan udara dingin dari AC mobil memenuhi paru-parunya, mencoba menjernihkan isi kepalanya yang sempat ikut terombang-ambing oleh skenario balas dendam tersebut. Ia menatap jemari tangannya yang masih berada di dalam genggaman hangat Bayu, lalu perlahan-lahan memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata pria di sampingnya itu.Ada riak ketegasan yang sangat tenang, namun tak terbantahkan, memancar dari sepasang mata jernih Maudy."Tidak, Bayu. Aku tidak setuju dengan ide gila itu!” seru Maudy dengan nada datar, tenang, dan penuh akan penolakan yang mutlak.“Loh, kenapa sayang?” tanya Bayu.Maudy perlahan menarik tangannya dari genggaman Bayu, lalu membetulkan posisi duduknya agar menghadap penuh ke arah kekasihnya. "Rencanamu itu memang terdengar sangat cerdas dan instan untuk menghancurkan mereka dalam semalam. Tapi, pernahkah kamu memikirkan apa ya
Read more