Ibu Maudy memegang erat kedua tangan anaknya. Matanya menatap Maudy tajam, memancarkan kepanikan seorang ibu yang tak ingin kehidupan rumah tangga putrinya koyak."Pikirkan lagi, Maudy," desak Ibunya dengan suara bergetar.Maudy tertegun. Kata-kata ibunya barusan seperti godam yang menghantam dadanya."Tapi itu dulu, Bu..." bisik Maudy, suaranya mendadak menyusut pelan."Dulu atau sekarang, perasaan lama itu bisa tumbuh lagi!" pangkas sang Ibu cepat."Mas Bayu cuma menganggapnya adik...""Perempuan mana yang tahan diabaikan pria seperti Bayu?" cecar Ibunya. "Gagah, mapan, dan perhatian!"Maudy menunduk. Bayangan masa lalu mendadak terlintas di benaknya. Dulu, sebelum mereka menikah, ia memang pernah mendengar cerita betapa Cindy begitu mengagumi sosok Bayu.Dada Maudy mendadak terasa sesak. Keraguan kecil mulai merayap halus memanjati pikirannya."Kamu sedang hamil empat anak kembar, Maudy," bisik Ibunya lagi, makin memojokkan pikiran Maudy."Iya, Bu...""Kondisimu sedang l
더 보기