Share

Bab 437

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-08-13 20:03:22

Sinar cahaya lampu dapur yang mendadak terang benderang itu terasa menelanjangi suasana di ruangan tersebut. Hening seketika mencekam, hanya diselingi napas Cindy yang tersengal pelan di dalam dekapan Bayu.

​Menyadari sorot lampu yang menyengat dan banyak pasang mata yang menatap mereka, terutama raut wajah Ibu Maudy yang mendadak berubah mengerikan, kesadaran Cindy seketika terhentak bangun.

Rasa pusing yang menghantam kepalanya mendadak menguap, berganti dengan rasa takut dan panik yang luar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 437

    Sinar cahaya lampu dapur yang mendadak terang benderang itu terasa menelanjangi suasana di ruangan tersebut. Hening seketika mencekam, hanya diselingi napas Cindy yang tersengal pelan di dalam dekapan Bayu.​Menyadari sorot lampu yang menyengat dan banyak pasang mata yang menatap mereka, terutama raut wajah Ibu Maudy yang mendadak berubah mengerikan, kesadaran Cindy seketika terhentak bangun. Rasa pusing yang menghantam kepalanya mendadak menguap, berganti dengan rasa takut dan panik yang luar biasa.​Dengan sisa-sisa tenaga dan gerakan yang sangat panik, Cindy berusaha sekuat tenaga mendorong dada Bayu untuk melepaskan diri dari papahan pria itu.​"M-mas... lepas..." bisik Cindy panik, suaranya gemetar hebat.​"Cindy, diam dulu, kaki kamu nanti kena kaca!" tahan Bayu.​"Tidak, Mas! Aku bisa berdiri sendiri!" potong Cindy dengan cepat.​Cindy mencoba berdiri merambat pada tepi meja bar. Tangannya gemetaran, matanya bergerak liar menatap orang-orang yang mengepung area dapur.​"Ibu...

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 436

    Dering jam dinding di ruang tengah menandakan pukul dua dini hari. Keheningan malam menyelimuti seluruh sudut kediaman rumah Bayu. Semua penghuni rumah telah terlelap dalam mimpi masing-masing, larut dalam kelelahan setelah seharian diwarnai berbagai kejadian.​Di kamar tamu lantai bawah, Cindy terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan panas. Efek samping obat-obatan medis yang diminumnya tadi malam membuat rasa haus melilit kerongkongannya. Ia menatap botol air mineral di atas nakas sebelah ranjangnya, namun cairan di dalamnya terasa hangat dan kurang menyegarkan. Cindy merindukan seteguk air es yang dingin untuk membasahi tenggorokannya yang dahaga.​Dengan gerakan amat pelan dan berhati-hati, Cindy menyibak selimutnya. Ia berdiri perlahan, meraba dinding kamar untuk menopang tubuhnya yang masih agak gontai, lalu melangkah keluar kamar menuju arah dapur utama.​Pada saat yang bersamaan, di kamar tidur utama lantai atas, Bayu mendadak terbangun. Pria itu mengusap l

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 435

    Ibu Maudy memegang erat kedua tangan anaknya. Matanya menatap Maudy tajam, memancarkan kepanikan seorang ibu yang tak ingin kehidupan rumah tangga putrinya koyak.​"Pikirkan lagi, Maudy," desak Ibunya dengan suara bergetar.​Maudy tertegun. Kata-kata ibunya barusan seperti godam yang menghantam dadanya.​"Tapi itu dulu, Bu..." bisik Maudy, suaranya mendadak menyusut pelan.​"Dulu atau sekarang, perasaan lama itu bisa tumbuh lagi!" pangkas sang Ibu cepat.​"Mas Bayu cuma menganggapnya adik..."​"Perempuan mana yang tahan diabaikan pria seperti Bayu?" cecar Ibunya. "Gagah, mapan, dan perhatian!"​Maudy menunduk. Bayangan masa lalu mendadak terlintas di benaknya. Dulu, sebelum mereka menikah, ia memang pernah mendengar cerita betapa Cindy begitu mengagumi sosok Bayu.​Dada Maudy mendadak terasa sesak. Keraguan kecil mulai merayap halus memanjati pikirannya.​"Kamu sedang hamil empat anak kembar, Maudy," bisik Ibunya lagi, makin memojokkan pikiran Maudy.​"Iya, Bu..."​"Kondisimu sedang l

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 434

    Roda mobil MPV hitam itu akhirnya berhenti sempurna di bawah kanopi teras utama yang megah. Pintu geser otomatis terbuka perlahan, menyapa sejuknya udara sore di pelataran rumah.​Ibu Maudy, yang sejak tadi menunggu di balik pintu ruang tamu, segera melangkah keluar dengan senyuman hangat di wajahnya. Namun, begitu langkah kakinya mendekati mobil, raut wajahnya mendadak berubah kaku. Senyumannya menyusut drastis saat melihat sosok wanita muda berwajah pucat yang melangkah keluar dibantu oleh Suster Maya. Wanita itu adalah Cindy.​Ibu Maudy tertegun. Matanya membelalak pelan, melirik Bayu dan Maudy secara bergantian. Keheranan dan rasa tidak setuju terpancar jelas di bola matanya. Namun, sebagai wanita paruh baya yang sarat akan tata krama, beliau dengan cepat menahan diri. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun yang memicu suasana kaku di depan Bayu maupun Cindy.​"Mari, Bu Cindy. Kamar tamunya sudah siap di sebelah sana," tutur Suster Maya dengan ramah, memapah Cindy menyusuri lorong

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 433

    Melihat keputusasaan di mata Cindy serta keteguhan hati Maudy yang sama sekali tak teroyak oleh keraguan, Bayu akhirnya menghembuskan napas panjang. Benteng keraguannya runtuh menghadapi gabungan antara rasa iba, janji masa lalu kepada almarhumah ibu angkatnya, dan kebaikan tanpa batas dari istri tercintanya.​Bayu melangkah mendekati ranjang tempat Cindy terbaring, menatap adik angkatnya itu dengan binar mata yang melunak meski raut wajahnya tetap menyisakan ketegasan khas seorang kepala keluarga.​"Baiklah, aku sudah putuskan. Tidak ada yang ditinggal sendirian di rumah kosong, Cindy. Kamu akan ikut pulang bersama kami ke rumah. Sampai kondisimu benar-benar pulih total dan dokter menyatakan kamu sanggup beraktivitas mandiri, kamu tinggal bersama kami,” ujar Bayu membuat keputusan sambil merangkul pundak istrinya.​Cindy terperanjat pelan, mendongak menatap Bayu dan Maudy secara bergantian. Air mata yang sejak tadi digenangnya di pelupuk mata akhirnya menetes perlahan membahasi pipin

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 432

    Hari itu, Bayu mendapat kabar jika Cindy diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama lebih dari seminggu pasca kecelakaan.Bayu berencana ke rumah sakit untuk mengurus administrasi, tapi Maudy ingin ikut. Meski Bayu sudah melarang, Maudy tetap memaksa.“Sayang, apa kamu yakin baik baik saja jika ikut ke rumah sakit?” tanya Bayu memastikan kondisi istrinya.“Aku nggak apa apaa Mas. Kalau di rumah malah aku nggak tenang. Karena aku ingin ketemu Cindy,” jawab Maudy. Keduanya kemudian berangkat dengan ditemani perawat dan supir. Setelah melakukan perjalanan selama empat puluh lima menit, mereka tiba di rumah sakit.Aroma obat-obatan yang khas masih tercium samar dari pakaian Cindy saat ia duduk termenung di tepi ranjang ruang rawat rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya yang kering hampir tak berwarna, dan gerak-geriknya mencerminkan betapa lelah dan lemahnya tubuh wanita muda itu. Meski dokter sudah mengizinkannya untuk keluar dari rumah sakit hari ini, kondisi fis

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 3

    “Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 2

    “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 1

    "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 5

    Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status