Maudy menatap Bayu, Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa dengan raut wajah yang amat tegas. Amarah dan rasa kelelahan emosional terpancar jelas dari sorot matanya. Ia tidak bisa lagi bertoleransi dengan kepanikan tak beralasan yang terus-menerus memojokkan putri bungsunya."Kalian dengar Mama baik-baik," ujar Maudy dengan nada suara menekan, memastikan setiap kata masuk ke dalam pikiran suami dan anak-anak laki-lakinya. "Evelyn itu sudah masuk SMA, bukan anak SD yang harus diikuti ke mana-mana atau diawasi setiap detiknya. Makin kalian tekan, makin kalian mata-matai, Evelyn bakal makin tertutup dan makin jauh dari kita semua! Jangan sampai rasa protektif kalian yang tidak masuk akal ini malah menghancurkan hubungan keluarga kita sendiri!"Bayu menghembuskan napas panjang, menundukkan kepala tanpa sanggup membantah lagi ucapan istrinya. Arka dan Bagas berdiri mematung penuh rasa bersalah, sementara Cakra dan Daffa mengangguk setuju, menyadari betapa benarnya teguran sang mama. Maudy menggel
Read more