"Satu... dua... tiga!"Brak!Dengan dorongan bahu Arka, Bagas, Cakra, dan Daffa yang menghantam pintu secara bersamaan, engsel kayu itu akhirnya jebol dan terbuka lebar. Ruangan kamar Evelyn seketika terekspos di hadapan mereka.Namun, pemandangan di dalam kamar membuat seluruh keluarga itu terpaku kaku. Seprai kasur tampak sedikit kusut, selimut tergeletak di atas tempat tidur, dan jendela kamar dalam keadaan terkunci. Evelyn tidak ada di sana. Kamar itu kosong melompong.Maudy yang melihat tempat tidur putrinya kosong seketika lemas. Kakinya gemetaran hebat hingga tubuhnya hampir meluruh ke lantai jika Bayu tidak dengan sigap menangkap dan merangkulnya."Evelyn... Evelyn di mana, Mas? Anak kita di mana?!" teriak Maudy histeris. Tangisnya pecah seketika, memenuhi seluruh penjuru lantai dua. "Evelyn! Jangan bikin Mama takut, Nak!"Melihat istrinya menangis histeris, kepanikan Bayu makin memuncak. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan gelombang cemas dan amarah yang berp
Read more