“Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru, jadinya kebanyakan sebelah. Nggak sadar.” Ia tersenyum lagi, berusaha setenang mungkin. Mahendra menghela napas pelan. “Kamu ini, selalu ada saja tingkah konyolnya.” “Papa istirahat lagi, ya. Sebentar lagi malam,” ucap Sasqia lembut seraya mengusap bahu sang ayah. “Nanti Qia yang suapi makan dan kasih obat.” Ia melepaskan tangan ayahnya perlahan. “Sekarang Qia mau ke kantin dulu cari makan. Papa mau dibelikan sesuatu? Atau mau pesan dari luar? Biasanya makanan rumah sakit hambar, kan?” Mahendra menggeleng pelan. “Tidak usah. Papa sudah terbiasa. Justru makanan yang tidak banyak bumbu lebih baik untuk kondisi Papa sekarang.” Sasqia mengangguk kecil. “Oke, deh. Qia keluar sebentar.” Ia
Read more