เข้าสู่ระบบ“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobil dengan langkah tegas dan penuh wibawa. Aura dinginnya terasa bahkan sebelum ia benar-benar memasuki bangunan megah itu. Sopir menyusul di belakang, membawa koper miliknya. Begitu melewati pintu utama, satu nama langsung terlintas di benaknya. “Sasqia.” Namanya terucap lirih namun jelas, seolah menjadi tujuan utama kedatangannya. “Sasqia.” “Tuan, Anda sudah datang.” Perawat pribadi sang kakek menyambutnya sopan. “Di mana Sasqia?” tanya Tristan tanpa basa-basi. Suaranya datar, sulit ditebak. “Nona Sasqia kemungkinan ada di kamarnya, Tuan. Biar saya antar.” Perawat itu berjalan lebih dulu menyusuri lorong panjang menuju deretan kamar. “Di sini, Tuan,” ujarnya sambil menunjuk pintu kam
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Sasqia ketika langkahnya terhenti di ambang ruang tengah vila. Ia sempat terperanjat. Di sana, sang kakek dan Kaelix duduk santai seolah telah lama menikmati pagi. Dua cangkir teh hangat mengepul pelan di atas meja rendah di antara mereka. “Bergabunglah dengan kami,” pinta kakek dengan suara berat namun ramah. Sasqia terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat. Ia duduk di sofa panjang, tepat berhadapan dengan Kaelix—hanya terpisah meja kayu yang terasa seperti batas tak kasatmata. Kakek duduk di sofa tunggal, menatapnya lurus dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya. “Sudah beberapa hari sejak kejadian itu, dan baru hari ini saya bisa berbicara langsung denganmu lagi. Padahal kita berada di bawah satu atap,” ujarnya perlahan. Sasqia hanya membalas dengan senyum kecil, pandangannya jatuh ke pangkuannya sendiri. “Ini cucu tertua saya, Kaelix.” Pria itu tetap duduk tegap, punggungnya bersandar santai namun penuh wibawa. Kedua tangannya terlipat di da
“Selamat malam, Pak,” sapa Jevier saat memasuki ruang rawat inap Mahendra. Pria paruh baya itu sempat terdiam dalam lamunannya. Namun ketika mendengar suara Jevier, ia tersenyum tipis. “Malam, Dok,” balasnya ramah. “Obat malamnya sudah diminum, Pak?” tanya Jevier seraya menarik kursi dan duduk di samping ranjang. “Sudah, Dok. Perawat baru saja keluar.” Jevier mengangguk pelan. “Semoga kondisi Bapak segera membaik. Kebetulan saya sedang senggang. Kalau Bapak berkenan, saya bisa menemani. Siapa tahu ingin berbincang atau sekadar melepas unek-unek.” Mahendra terkekeh lirih. “Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka curhat. Tapi entah kenapa malam ini … saya ingin sekali mengungkapkan sesuatu yang selama ini jarang saya bagi.” “Saya mendengarkan, Pak. Kalau Bapak bersedia.” Mahendra tidak langsung menjawab. Pandangannya melayang ke luar jendela kamar rawat, seolah mencari keberanian. “Saya ingin sembuh, Dok. Saya ingin diberi waktu lebih lama. Saya ingin mendampingi anak saya
“Bagaimana dengan pramugari itu?” tanya sang kakek pada perawat pribadinya yang tengah membantunya sarapan pagi.Perawat itu tersenyum kecil. “Dia ada di sini, Tuan. Tuan Muda Kaelix membawanya kemari.”Kakek menghela napas panjang. “Baguslah. Saya merasa tidak enak padanya.”Perawat itu hanya mengangguk hormat.“Berikan dia sejumlah uang. Saya tidak ingin berutang budi,” lanjut sang kakek, pandangannya lurus ke arah jendela kamar.Perawat itu terdiam sejenak. Entah mengapa, ia ragu wanita itu akan menerima pemberian tersebut. Meski hanya berbincang singkat semalam, ia merasa Sasqia bukan tipe yang mudah menerima imbalan.“Baik, Tuan. Akan saya sampaikan,” jawabnya akhirnya tenang._____Di luar kamar, tepatnya di meja makan, suasana terasa kaku.Kaelix dan Sasqia duduk berhadapan dalam diam. Tak ada percakapan. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.Sasqia tenggelam dalam pikirannya sendiri.Beberapa hari ke depan, berarti ia masih harus berada di sini. Satu
“Bagaimana kondisi kakekmu, Kael?” tanya Remmer dari seberang telepon, suaranya terdengar tegas namun menyimpan kekhawatiran.“Kesehatannya mulai membaik,” jawab Kaelix tenang, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, satu tangan lagi menahan ponsel di samping telinga.“Sejak awal saya sudah tahu beliau tidak cukup kuat untuk perjalanan itu. Tapi Ayah juga tahu bagaimana keras kepalanya Kakek. Jadi saya biarkan beliau tetap datang ke bandara.”“Kalau kamu sudah yakin beliau tidak kuat, kenapa tetap dibiarkan?” suara Remmer meninggi sedikit. “Tidak ada yang serius, kan? Dokter sudah dipanggil?”Kaelix menghela napas panjang. “Sudah, Yah. Semua sudah ditangani. Saya membiarkan beliau pergi karena tahu tidak ada yang bisa menghentikannya.”Terdengar helaan napas berat dari Remmer. “Baiklah. Kalau kondisinya menurun lagi, segera hubungi Ayah. Ayah dan Ibu akan langsung terbang ke sana.”“Hm,” gumam Kaelix singkat sebelum memutuskan sambungan.Ia memasukkan ponsel ke saku celana dan he
“Silakan duduk, Nona,” ucap perawat itu sopan sambil menarikkan kursi untuk Sasqia.Sasqia tersenyum tipis. “Terima kasih banyak, Kak.”Perawat itu membalas senyumnya. “Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit.”“Hah?” Mata Sasqia membulat. “Kakak gak ikut makan?”Perawat itu menggeleng pelan. “Tidak. Bukan posisi saya untuk makan di meja ini.”“Lalu … saya makan sendiri?” Sasqia menunjuk dirinya dengan ekspresi canggung.“Benar. Saya harus menyuapi Tuan makan malam sekaligus memberinya obat,” jelas perawat itu lembut.“Oh … baiklah,” jawab Sasqia pelan, mencoba tersenyum sebelum akhirnya duduk.“Oke, saya permisi.” Perawat itu pun melangkah pergi menuju kamar majikannya.Kini tinggal Sasqia seorang diri di ruang makan yang luas dan elegan itu. Ia menatap deretan hidangan yang tersaji rapi di atas meja, semuanya tampak lezat dan menggugah selera.“Ini … gak harus aku habisin semuanya, kan?” gumamnya pelan.Ia terkekeh kecil, lalu mengambil piring dan mulai mengisinya secukupnya dengan bebe







