Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak. Melihat raut terkejut di wajah dokter muda itu, Mahendra justru tersenyum tipis. “Apa … terlalu terlihat, ya, Pak?” tanya Jevier akhirnya, suaranya rendah, hampir seperti pengakuan. Ia tidak mencoba menyangkal. Tidak pula mencari alasan. Justru ada kelegaan aneh saat pertanyaan itu akhirnya terucap. “Hm,” Mahendra mengangguk pelan. “Cukup jelas untuk seorang ayah.” Jevier tertawa kecil, canggung. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti mahasiswa yang tertangkap basah, bukan dokter yang tenang dan rasional. “Tapi, Pak,” ia buru-buru meluruskan, “Setiap kali saya datang menemui atau menema
Read more