“Gimana, Ma? Kalungnya asli?” tanya Shiren malam itu, begitu mereka selesai makan malam bertiga bersama Sherly. Di sudut ruang tengah, Sherly asyik memainkan kotak musik balerina pemberian bibinya. Boneka beruang di pelukannya didekap erat, seolah takut ada yang merebutnya. “Asli, dong. Harganya memang sepuluh ribu dolar,” jawab Soraya santai, senyum tipis mengembang di bibirnya. Shiren terperangah. “Serius, Ma? Dari mana Qia bisa dapet kalung semahal itu?” Soraya mengangkat bahu ringan. “Mama sih gak yakin itu dari uang pribadinya. Pasti diam-diam dia punya pacar kaya raya.” Mata Shiren menyipit, penuh perhitungan. “Jangan-jangan dia jadi simpanan orang kaya?” Soraya terdiam sejenak, keningnya berkerut, seolah mempertimbangkan kemungkinan itu. “Hm … entahlah. Tapi kalau memang begitu, apa salahnya?” “Kok malah gak salah, Ma?” Shiren menatap ibunya tak percaya. “Itu kan jadi simpanan.” Soraya terkekeh pelan. “Asal dia pintar menguras uangnya, dan kita bisa hidup enak tanpa perl
Read more