Se connecter“Bagaimana dengan pramugari itu?” tanya sang kakek pada perawat pribadinya yang tengah membantunya sarapan pagi.Perawat itu tersenyum kecil. “Dia ada di sini, Tuan. Tuan Muda Kaelix membawanya kemari.”Kakek menghela napas panjang. “Baguslah. Saya merasa tidak enak padanya.”Perawat itu hanya mengangguk hormat.“Berikan dia sejumlah uang. Saya tidak ingin berutang budi,” lanjut sang kakek, pandangannya lurus ke arah jendela kamar.Perawat itu terdiam sejenak. Entah mengapa, ia ragu wanita itu akan menerima pemberian tersebut. Meski hanya berbincang singkat semalam, ia merasa Sasqia bukan tipe yang mudah menerima imbalan.“Baik, Tuan. Akan saya sampaikan,” jawabnya akhirnya tenang._____Di luar kamar, tepatnya di meja makan, suasana terasa kaku.Kaelix dan Sasqia duduk berhadapan dalam diam. Tak ada percakapan. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.Sasqia tenggelam dalam pikirannya sendiri.Beberapa hari ke depan, berarti ia masih harus berada di sini. Satu
“Bagaimana kondisi kakekmu, Kael?” tanya Remmer dari seberang telepon, suaranya terdengar tegas namun menyimpan kekhawatiran.“Kesehatannya mulai membaik,” jawab Kaelix tenang, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, satu tangan lagi menahan ponsel di samping telinga.“Sejak awal saya sudah tahu beliau tidak cukup kuat untuk perjalanan itu. Tapi Ayah juga tahu bagaimana keras kepalanya Kakek. Jadi saya biarkan beliau tetap datang ke bandara.”“Kalau kamu sudah yakin beliau tidak kuat, kenapa tetap dibiarkan?” suara Remmer meninggi sedikit. “Tidak ada yang serius, kan? Dokter sudah dipanggil?”Kaelix menghela napas panjang. “Sudah, Yah. Semua sudah ditangani. Saya membiarkan beliau pergi karena tahu tidak ada yang bisa menghentikannya.”Terdengar helaan napas berat dari Remmer. “Baiklah. Kalau kondisinya menurun lagi, segera hubungi Ayah. Ayah dan Ibu akan langsung terbang ke sana.”“Hm,” gumam Kaelix singkat sebelum memutuskan sambungan.Ia memasukkan ponsel ke saku celana dan he
“Silakan duduk, Nona,” ucap perawat itu sopan sambil menarikkan kursi untuk Sasqia.Sasqia tersenyum tipis. “Terima kasih banyak, Kak.”Perawat itu membalas senyumnya. “Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit.”“Hah?” Mata Sasqia membulat. “Kakak gak ikut makan?”Perawat itu menggeleng pelan. “Tidak. Bukan posisi saya untuk makan di meja ini.”“Lalu … saya makan sendiri?” Sasqia menunjuk dirinya dengan ekspresi canggung.“Benar. Saya harus menyuapi Tuan makan malam sekaligus memberinya obat,” jelas perawat itu lembut.“Oh … baiklah,” jawab Sasqia pelan, mencoba tersenyum sebelum akhirnya duduk.“Oke, saya permisi.” Perawat itu pun melangkah pergi menuju kamar majikannya.Kini tinggal Sasqia seorang diri di ruang makan yang luas dan elegan itu. Ia menatap deretan hidangan yang tersaji rapi di atas meja, semuanya tampak lezat dan menggugah selera.“Ini … gak harus aku habisin semuanya, kan?” gumamnya pelan.Ia terkekeh kecil, lalu mengambil piring dan mulai mengisinya secukupnya dengan bebe
“Gimana, Ma? Kalungnya asli?” tanya Shiren malam itu, begitu mereka selesai makan malam bertiga bersama Sherly. Di sudut ruang tengah, Sherly asyik memainkan kotak musik balerina pemberian bibinya. Boneka beruang di pelukannya didekap erat, seolah takut ada yang merebutnya. “Asli, dong. Harganya memang sepuluh ribu dolar,” jawab Soraya santai, senyum tipis mengembang di bibirnya. Shiren terperangah. “Serius, Ma? Dari mana Qia bisa dapet kalung semahal itu?” Soraya mengangkat bahu ringan. “Mama sih gak yakin itu dari uang pribadinya. Pasti diam-diam dia punya pacar kaya raya.” Mata Shiren menyipit, penuh perhitungan. “Jangan-jangan dia jadi simpanan orang kaya?” Soraya terdiam sejenak, keningnya berkerut, seolah mempertimbangkan kemungkinan itu. “Hm … entahlah. Tapi kalau memang begitu, apa salahnya?” “Kok malah gak salah, Ma?” Shiren menatap ibunya tak percaya. “Itu kan jadi simpanan.” Soraya terkekeh pelan. “Asal dia pintar menguras uangnya, dan kita bisa hidup enak tanpa perl
Kaelix baru saja selesai mandi. Tubuh atletisnya hanya terbalut handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya yang bidang.“Sial, cuma ada handuk. Tidak ada bathrobe,” gumamnya pelan.Udara malam terasa cukup dingin hingga membuatnya beberapa kali mendecih kesal.Begitu keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung tertuju pada koper navy kesayangannya yang tergeletak di samping ranjang king size. Tanpa curiga, ia meraih dan membukanya.Namun alih-alih menemukan setelan jas dan kemeja rapi, yang terlihat justru pakaian dalam wanita dengan warna-warna lembut tertata di dalamnya.Kaelix terdiam sejenak.“Koper ini … milik siapa?”Belum sempat ia menyusun dugaan, pintu kamarnya diketuk pelan.Tok. Tok. Tok.Ia melangkah ke arah pintu dan membukanya.Di ambang pintu berdiri Sasqia. Kepalanya tertunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Tubuhnya terbalut kemeja navy yang jelas kebesaran di badannya, kemeja miliknya.Sebuah koper lain diseret dan diletakkan di hadapannya.“Sep
“Kenapa dengan kakek saya?”Suara Tristan terdengar tegas saat ia memasuki kabin VIP. Tatapannya langsung mengarah pada perawat pribadi sang kakek.Perawat itu sedikit terperanjat. “Tuan sedang kurang fit sejak pagi. Tapi beliau tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Jerman.”Rahang Tristan menegang. Tatapannya beralih pada Kaelix, yang berdiri di sisi kursi, memperhatikan kakek mereka yang kini minum air hangat dengan bantuan Sasqia.“Bawa Kakek pulang,” ujar Tristan tegas pada perawat. Lalu ia menoleh pada salah satu kru. “Umumkan penerbangan ditunda tiga puluh menit.”“Baik, Kapten.”Tristan melangkah lebih dekat untuk membantu. Tangannya hendak meraih bahu pramugari yang tadi sigap menolong, namun ia baru menyadari wajah itu.“Kamu?”Keningnya mengernyit.Sasqia tersenyum kecil, meski rok seragamnya jelas ternoda. “Kapten.”Tatapan Tristan kembali pada perawat. Nada suaranya berubah dingin. “Apa yang kamu lakukan sejak tadi? Kenapa kru saya yang harus turun tangan seperti ini?”







