Jevier menarik kursi perlahan lalu duduk di samping Miriam. “Iya, Bu. Lagi banyak urusan akhir-akhir ini. Tapi hari ini mulai longgar.” Remmer melirik sekilas pada putra bungsunya itu. “Urusan pekerjaan, atau urusan lain?” Nada suaranya terdengar tenang, namun sarat makna. Jevier tersenyum tipis. “Campur, Ayah. Ada urusan pribadi juga.” “Hm … Ibu sudah menduganya,” goda Miriam dengan senyum penuh arti. “Datang pagi-pagi, pulang larut malam. Apa pasiennya … gebetan kamu?” Jevier sempat terdiam, lalu menggeleng singkat. “Bukan, Bu. Pasiennya laki-laki.” “Laki-laki?” Remmer menatap tajam putra bungsunya. “Jangan bilang kamu punya kelainan, Nak,” seru Miriam refleks, menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Bukan begitu, Ayah, Ibu,” Jevier menggeleng tegas, lalu tersenyum kecil. “Pasiennya pria paruh baya. Ayah dari perempuan yang sedang aku dekati.” Miriam menghembuskan napas lega sambil mengelus dada. “Ya ampun, Ibu pikir apa tadi.” Remmer menggeleng pelan, sementara Jevier ha
Read more