Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada panggilan yang lebih manis?” tanyanya dengan satu alis terangkat. Sasqia melipat bibirnya sejenak. “Lalu, panggilan manis apa yang Anda inginkan?” “Terserah, yang penting jangan Kapten, kecuali saat bekerja.” “Hm …,” Sasqia tersenyum kecil. “Gimana kalau ‘Mas’?” tanyanya, berharap pilihannya disetujui. Tristan tampak berfikir sejenak, sementara Sasqia menatapnya sembari menggigit bibirnya, takut. “Tidak buruk,” ucap Tristan tenang. “Meski terdengar panggilan seorang istri ke suami.” Sasqia terkekeh pelan. “Ekhem,” Sasqia berdehem pelan. “Sekali lagi terima kasih ya, Mas. Untuk kalungnya juga.” Ia menelan ludah, karena langsung mempraktekan panggilan barunya pada sang Kapten sekali
Read more