Dua bulan berlalu usai liburan di Jepang. Sasqia sudah memasuki usia kehamilan 35 minggu. Perutnya yang semakin membulat membuat setiap langkahnya terasa lebih berat. Ia tak lagi bisa bergerak secepat dulu. Bahkan sekadar membungkuk untuk mengenakan sandal di pagi hari sudah membuatnya mengerang pelan, satu tangan menopang punggung bawah yang mulai sering pegal. Kaelix selalu ada di sampingnya. Setiap pagi ia membungkuk di depan Sasqia, memasangkan sandal dengan telaten, lalu mengecup punggung tangan istrinya sebelum membantu membimbingnya berdiri. “Pelan-pelan, sayang. Jangan buru-buru,” gumamnya, suaranya rendah dan penuh perhatian. Kamar bayi sudah siap. Tempat tidur kecil berwarna krem dengan motif awan lembut berdiri di sudut ruangan. Lemari berisi baju-baju mungil yang sudah dilipat rapi, popok, selimut, dan boneka kelinci putih yang Kaelix beli diam-diam seminggu lalu. Tas persalinan juga sudah dipersiapkan di dekat pintu kamar—berisi dokumen, baju ganti, perlengk
อ่านเพิ่มเติม