Malam itu, kediaman Valerio terasa lebih hangat dari biasanya. Tidak ada pesta besar, tidak ada tamu undangan, bahkan dekorasi yang dipasang pun sederhana. Hanya beberapa balon warna-warni, kue ulang tahun berukuran sedang, serta meja kecil yang dipenuhi makanan kesukaan Sana. Miriam sengaja membuat perayaan itu sederhana. Ia hanya ingin Sana menikmati hari ulang tahunnya bersama orang-orang yang selama ini berada di sisinya. Sana berdiri di depan kue dengan gaun cantik, sementara Tristan, Jevier, Miriam, dan Remmer berdiri mengelilinginya. Setelah lilin ditiup, tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. “Selamat ulang tahun, Sana!” Sana tertawa lebar. “Terima kasih, Pa, Kakek, Nenek, sama Om Jev!” Tristan segera mendekat dan berjongkok di hadapan putrinya. “Sudah besar sekarang,” ucapnya sambil mengusap puncak kepala Sana. “Semoga Sana selalu sehat, bahagia, dan jadi anak baik.” Sana mengangguk antusias. “Papa juga harus bahagia.” Tristan tersenyum. “Tentu.” Namun bukannya la
อ่านเพิ่มเติม