“Papa, ini adek Elyn!” Suara riang Sana terdengar dari arah tangga menuju lantai satu. Bocah itu berjalan dengan langkah cepat, nyaris berlari karena terlalu bersemangat. Salah satu tangannya menggenggam tangan Sasqia, sementara matanya tak henti-henti melirik ke arah Kaelyn yang berada dalam gendongan Kaelix. Tristan, yang sejak tadi menunggu di ruang tengah, tersenyum kecil melihat tingkah putrinya. Sejak tadi Sana memang tak sabar ingin bertemu dengan bayi perempuan yang beberapa hari terakhir terus dibicarakannya. “Akhirnya turun juga,” gumam Tristan pelan. Sana, Sasqia, dan Kaelix akhirnya tiba di lantai satu. Begitu mereka mendekat, Tristan segera berdiri dari sofa. “Saya sebenarnya sudah mengatakan padanya untuk menunggu di bawah,” ucap Tristan sambil melirik putrinya. “Tapi sepertinya rasa penasaran Sana jauh lebih besar daripada
อ่านเพิ่มเติม