“Elyn sayang, kamu lapar, ya, Nak?” tanya Sasqia lembut. Ia menggendong putrinya lebih dekat, kemudian membuka resleting pakaian menyusui yang dikenakannya. “Iya, Mama udah siapin ASI.” Seolah memahami perkataan ibunya, Kaelyn langsung merengek. Kedua tangan mungilnya bergerak gelisah, jemarinya mencari-cari sumber makanan yang sudah dikenalnya sejak lahir. Sasqia tersenyum melihat tingkah putrinya. “Sebentar, sayang. Sabar.” Namun Kaelyn justru semakin tidak sabar. Begitu Sasqia berhasil menyusui, rengekan kecil itu perlahan berubah menjadi suara isapan yang teratur. “Utututu …,” Sasqia terkekeh pelan, tangannya mengusap puncak kepala Elyn dengan penuh kasih. “Gak sabaran banget, sih, kamu.” Kaelyn tetap menyusu dengan tenang, seolah tidak peduli dengan ocehan ibunya. Sasqia tersenyum lebar. “Iya, Mama di sini. Gak a
อ่านเพิ่มเติม