Setelah makanan di piringnya tandas dan obat yang diberikan dokter berhasil diminum, Sherly akhirnya terlelap di atas brankar. Wajah kecilnya masih terlihat pucat, tetapi napasnya sudah jauh lebih teratur. Tangan mungilnya bahkan masih menggenggam salah satu sisi kotak Barbie yang tadi dibawakan Kaelix. Sasqia memandangi keponakannya dengan senyum tipis. “Syukurlah,” bisiknya dengan penuh rasa kelegaan. “Akhirnya dia mau makan dan minum obat.” Beberapa saat kemudian, tatapannya beralih kepada Kaelix yang berdiri di sisi brankar. Kedua tangan pria itu terselip di saku celana, sementara matanya sesekali tertuju pada Sherly. “Mas.” Sasqia memanggil dengan lembut. “Hm?” “Makasih, ya.” Kaelix menoleh, tatapannya tenang. “Udah dateng dan bikin Sherly gak sedih lagi.” Senyum kecil muncul di wajah Sasqia. “Tadi dia sampe gak mau makan karena terus minta ketemu mamanya. Tapi setelah Mas dateng, dia jauh lebih tenang.” Kaelix mengangguk pelan. “Dia keponakan kamu,” tatapannya kembali
Read more