“Saya harap Ayah bisa mengajari istri Ayah dengan benar sebelum saya sendiri yang turun tangan.” Klik. Panggilan terputus. Remmer masih berdiri kaku di depan jendela kamar, ponsel tergenggam erat di tangan. Tatapannya kosong menembus kaca, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal—nada suara Kaelix yang begitu dingin. Selama ini putra sulungnya memang dikenal tegas. Namun kali ini berbeda. Kaelix tidak sedang sekadar marah kepada ibunya, ia sedang memberi peringatan. Dan Remmer tahu, putranya bukan tipe orang yang akan mengucapkan ancaman tanpa benar-benar melakukannya. Terlebih setelah mengetahui apa yang dilakukan Miriam kepada Sasqia. Pintu kamar terbuka. “Mas,” panggil Miriam dengan wajah semringah. Ia masuk sembari membawa ponselnya. “Besok kita dapat undangan ke—” “Kenapa kamu melakukan itu, Mir?” Suara Remmer memotong ucapannya. Miriam langsung berhenti. Remmer berbalik. Tatapannya yang biasanya lembut kini berubah tajam, membuat langkah Miriam tertahan. “Aku ... m
Read more