Plak!!! Kania meutup mulutnya kaget. Tak menyangka ayah mertuanya yang biasanya tenang dan tidak peduli pada anaknya, bisa melakukan kekerasan seperti ini. “Pa! jangan kasar! Semuanya bisa dibicarakan baik-baik!” Mama menggeret lengan papa menuju ruang kerjanya, diikuti oleh Darma. Kania. Dia menghentikan langkahnya merasa tak ada urusan dengan semua ini, sebentar lagi dia bukan lagi anggota keluarga ini, dengan tenang wanita hamil itu duduk di sofa ruang tamu, mengabaikan pandangan sinis beberapa pembantu yang kebetulan melintas. Tak ada yang berbasa-basi menyapanya, atau bahkan menawarinya minum layaknya istri dari anak majikan mereka, atau paling parah tamu yang datang berkunjung. Namun Kania tak peduli, sudah biasa diperlakukan seperti ini di rumah Nayla yang selama ini dia tinggali membuatnya kebal, justru kalau ada yang menawarinya minum atau makanan dia harusnya curiga. Apa tidak ada obat atau bahkan racun yang berbahaya untuk janinnya? Syukurlah tadi kania sempa
Read more