Begitu pintu tertutup, Erga meletakkan ponselnya dan menatap Kania sesaat sebelum berdiri dan mengambil air dari teko. “Minum dulu, atau kamu makan sesuatu, biar aku minta asistenku carikan.” Kania menggeleng pelan, terakhir makan memang hanya sarapan bersama Darma tapi sampai sekarang rasanya perutnya sama sekali tak lapar. Siapa sih yang masih sanggup makan dengan setelah hampir saja dibunuh seperti itu. “Kalau begitu makan yang dari rumah sakit saja,” putus Erga mengambil nampan di atas nakas. “Ini bukan untukmu saja tapi juga bayimu, dia butuh nutrisi.” Kalimat itu menampar Kania dengan keras, Erga benar. Apapun yang telah dilakukan Nayla padanya, anak dalam kandungannya tak boleh menjadi korban lagi. “Buka mulutmu,” kata Erga yang sudah siap menyuapkan makanan untuk Kania. “Tolong tinggikan tempat tidurnya, biar aku makan sendiri.” Erga meletakkan nam
Read more