Lutut Mirah menghantam granit lobi yang sedingin es. Anak buah Agam menyeretnya kasar dari gang gelap di belakang gedung. Ujung pistol yang menempel di pelipisnya baru saja melenyapkan sisa keberaniannya untuk lari."Ampun, Agam," rintih Mirah dengan suara yang hampir habis. Agam hanya mengembuskan asap cerutu tebal ke wajahnya yang pucat. Pak Darmawan menonton dari sofa dengan senyum cabul yang menjijikkan."Ini kesempatan terakhirmu, Mirah," desis Agam sambil mencengkeram dagu gadis itu. Dia menunjuk tumpukan uang merah hasil lelang yang berserakan di atas meja. Mirah menatap uang itu seolah melihat tumpukan kotoran yang berbau busuk."Layani Pak Darmawan sampai dia puas," perintah Agam dengan nada yang mutlak. "Atau ayahmu di kampung tidak akan pernah bangun lagi besok pagi," ancamnya. Mirah hanya mampu mengangguk pasrah saat air matanya membasahi lantai granit.***Sementara itu, neon ungu Griya Binal di Jakarta Barat sedang memecahkan rekor ke
Last Updated : 2026-05-04 Read more