Pintu jati raksasa itu terbuka tanpa suara, menyemburkan hawa dingin yang kontras dengan gerahnya Jakarta. Mirah melangkah masuk, mencengkeram tali tas kulit sintetisnya hingga buku-buku jarinya memutih. Aroma cendana murni yang sangat mahal menusuk hidungnya, jauh lebih tajam daripada parfum literan di Taman Suci."Duduklah, jangan mengotori lantai marmer saya dengan getaran ketakutanmu itu," suara berat muncul dari balik kursi kulit tinggi. Pria itu—Sang Kurator—memutar kursinya perlahan sambil memegang segelas wiski amber yang es batunya berdenting pelan. Tatapannya menilai Mirah dari ujung kaki hingga kepala, dingin, seolah sedang memeriksa cacat pada barang lelang.Pria ini bukan monster kasar seperti Pak Broto, dia iblis yang jauh lebih rapi dan mematikan. Mirah merasakan napasnya tertahan di kerongkongan saat menyadari bangunan ini adalah filter terakhir sebelum para terapis menjadi persembahan elit. Ia duduk di ujung kursi, berusaha menyembunyikan m
Last Updated : 2026-05-01 Read more