"I-Ian... Kak Luna cuma khawatir sama kamu. Kamu nggak bisa terus-terusan mengurung diri begini," ucap Binar dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan keberaniannya."Bukan urusanmu," potong Jovian cepat dan kasar. Ia berhenti hanya satu meter di depan Binar, menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Pulang, Binar. Tempat ini bukan untuk staf sepertimu. Aku tidak butuh simpati dari siapa pun, apalagi darimu."Kata-kata pedas itu meluncur begitu saja dari mulut Jovian, menusuk langsung ke ulu hati Binar. Namun, mengingat air mata Luna tadi di ruang rapat, Binar menolak untuk berbalik dan lari."Aku nggak akan pulang," balas Binar, mendongakkan wajahnya menatap Jovian. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. "Kamu belum makan dengan benar. Ruangan ini bau a
Read more