"Ahhh... ssshhh... Sayang..." desah Vandella, kepalanya bersandar di tepian pualam bathtub. Jari-jarinya bergerak semakin cepat, memompa liangnya sendiri dengan beringas."Panggil namaku, Vella. Tatap mataku," geram Jovian di seberang sana, tangannya memompa kejantanannya dengan ritme yang seirama dengan pergerakan tangan Vandella."Jovian... ahhh! Ian... ini sangat kosong... tolong, aku mau kamu yang mengisinya... ahh!" racau Vandella histeris, air mata gairah menggenang di pelupuk matanya. Sensasi voyeurisme virtual ini, di mana ia diperintahkan dan ditonton oleh pria yang memegang kendali penuh atas dirinya, membuat kewarasannya hancur lebur."Kau milikku, Vella. Ingat itu," desis Jovian, matanya berkilat buas melihat wanita itu meronta dalam kenikmatan. "Tidak peduli seberapa jauh jarak kita, rahimmu hanya akan bereaksi untukku.""Ya! Ahhh! Hanya milikmu, Ian! Ahhhh!"Vandella menjerit melengking. Tubuhnya mengejang kaku di dalam bathtub. Air beriak keras dan memercik keluar saat
続きを読む