Malam semakin larut.Aroma daging panggang masih menggantung di udara, bercampur dengan tawa yang belum benar-benar padam.Area barbeque di halaman belakang mansion Gunadhya masih hidup—lampu gantung temaram, meja panjang yang dipenuhi sisa makanan, dan gelas-gelas yang belum sepenuhnya kosong.Zyandru berdiri di dekat grill.Seperti biasa—paling berisik.“Ini gue bilang ya … kalau masak steak itu jangan terlalu sering dibolak-balik, nanti jusnya keluar semua—kering, enggak enak!” katanya dengan gaya sok ahli.“Padahal yang masak dari tadi koki,” sahut Kanaya mendengkus sinis.“Tapi yang makan paling banyak dia,” balas sang koki.Tawa pecah lagi.Zyandru hanya nyengir santai, tidak merasa tersindir sedikit pun.“Yang penting hasil akhirnya, bro,” katanya ringan.Di sisi lain—Kaluna duduk di samping Satria.Sesekali tersenyum.Sesekali menanggapi.Namun lebih banyak—diam.Menikmati sekaligus menahan.Satria di sampingnya terlihat tenang.Ikut tertawa saat perlu.Menja
Read more