Pagi itu setelah sarapan pagi, Ratu sibuk menghitung koper-koper besarnya.Satu.Dua.Tiga.Empat.Lima.Enam.Belum termasuk paperbag-paperbag butik mewah yang memenuhi hampir setengah ruang keluarga yang berisi dress, coat, tas, sepatu, skincare, make up, parfum.Dan semua barang yang dulu dibeli dengan wajah bahagia kini justru terlihat seperti benda-benda yang akan menjadi saksi sebuah perpisahan.Ratu menggigit bibir bawah.Tangannya sibuk merapikan pegangan koper meski sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dirapikan.Sementara di seberang sana—Zyandru berdiri diam.Tangannya masuk ke dalam saku celana, mengepal.Tatapannya terus mengawasi setiap gerak Ratu.Sejak semalam.Sejak penolakan itu.Sejak tangis di Central Park.Dan sejak kalimat Ratu yang terus terngiang sampai sekarang—“Aku mau mencintai Aa dengan bebas….”Zyandru menarik napas panjang.“Neng.”Ratu berhenti bergerak.Pelan, ia menoleh.“Iya?”Zyandru diam beberapa detik.Lalu tersenyum tipis.
Read more