Home / Romansa / Menantang Kasta / Hanya Pelukan

Share

Hanya Pelukan

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-05-07 09:44:00

Malam di Manhattan terasa berbeda.

Lebih hidup. Lebih berkilau. Dan entah kenapa—lebih romantis.

Setelah makan malam selesai, Ratu membantu membereskan meja meski Zyandru beberapa kali mengusirnya kembali ke sofa.

Namun Ratu tetap keras kepala.

Minimal membuang tissue bekas atau membawa gelas ke kitchen island.

Sampai akhirnya Zyandru menyerah dan hanya memperhatikannya sambil tersenyum tipis.

“Neng.”

“Hm?” Ratu menoleh.

“Aa baru tahu .…”

Ratu meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Astariii_
Jangan macem² yaaa ru. Pokoknya jgn sampe di perawanin apalagi kalo lu nikahnya ama yg lain. Kesian ratu
goodnovel comment avatar
Lovelyday27
smg Zyandaru dan Ratu tetap bisa mengendalikan diri, gak berbuat lebih jauh. kasihan Ratu masih blm kelar kuliahnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Tidak Sama

    Pagi keesokan harinya, Kaluna dan Satria kembali ke Lembang.Gedung bertingkat berganti hamparan kebun teh.Sampai akhirnya mobil Satria memasuki jalan desa.Meski udara menusuk hingga tulang, namun kali ini—entah kenapa—Kaluna merasa jauh lebih hangat.Karena tangan kirinya sejak tadi tidak pernah lepas dari genggaman Satria di atas console tengah.Tidak ada banyak obrolan selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.Kadang Satria hanya melirik sekilas.Kadang mengusap punggung tangan Kaluna dengan ibu jarinya.Sesederhana itu.Tapi cukup membuat hati Kaluna terasa penuh.Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman rumah bapak dan ibu.Kaluna menelan ludah.Jantungnya berdebar kencang.Tangannya mulai dingin.“Aku takut…,” bisiknya pelan.Satria menoleh.Tatapannya lembut.“Takut kenapa?”Kaluna menggigit bibir bawah.“Aku pergi tanpa bilang … aku pasti bikin ibu sama bapak khawatir.”Satria tersenyum kecil.Tangannya terangkat, mengusap kepala Kaluna.“Tenaaaan

  • Menantang Kasta   Memberi Waktu Tanpa Meninggalkan

    “Kamu udah makan, sayang?” Satria bertanya sambil menutup pintu.Mereka baru saja sampai di kamar hotel milik AG Group.Langkah Kaluna berhenti di tengah kamar suite itu, dia membalikan badan.Matanya kembali basah.“Sayaaang … aku salah apa?” Satria mendekat.Mengusap pipi Kaluna yang basah.“Maafin aku … Maafin aku …..” Kaluna terisak, seketika itu juga Satria membawanya ke dalam pelukan.“Aku yang mau minta maaf sama kamu sampai kamu pergi enggak kasih tahu aku … aku salah apa?” Satria mengecup kepala Kaluna dalam.Kaluna mengurai pelukan, dia menarik tangan Satria menuntunnya duduk di sofa.“Tapi kalau aku cerita, kamu enggak akan marah, kan?” tanya Kaluna hati-hati.Satria tersenyum kecil, tangannya mengusap kepala Kaluna lembut.“Apa pernah aku marah sama kamu?” Kaluna menggelengkan kepala.“Kalau aku cerita, apapun itu yang menyakiti hati kamu … Kamu enggak akan benci sama aku?” Kaluna bertanya lagi mencari keyakinan.Satria terpekur sebentar sampai akhirnya di

  • Menantang Kasta   Pergi Bukan Untuk Meninggalkan

    Malam telah larut.Jam di dinding rumah keluarga Gunadhya sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.Udara Jakarta terasa berbeda dari Lembang.Lebih hangat. Lebih padat. Lebih sesak.Namun di teras samping mansion megah itu, suasananya justru terasa begitu dingin.Kaluna masih berlutut.Dress cream yang dikenakannya kini sudah kusut di beberapa bagian.Rambut panjangnya semakin berantakan.Wajah cantiknya tampak sembab.Bibirnya pucat.Dan tubuhnya sesekali bergetar menahan lelah.Di sampingnya—bunda Arshavina masih duduk bersimpuh.Sesekali mengusap pundak Kaluna.Sesekali menghapus air mata sendiri.Bahkan dari tadi—wanita yang masih cantik diusianya meski tak lagi muda itu belum berhenti menangis.“Luna .…” Suara bunda terdengar pecah.“Cukup, Sayang … ayo bangun, nanti lutut kamu sakit .…”Kaluna menggeleng lemah.“Ayah belum janji, Bun ... Luna enggak mau pulang tanpa hasil, kasian Satria … Bu, dia berjuang mati-matian membahagiakan Luna … kedua orang tuanya

  • Menantang Kasta   Memohon Untuk Satria

    Siang sudah berganti malam ketika mobil Satria yang dikendarai Kaluna akhirnya memasuki kawasan elite Pondok Indah.Lampu-lampu taman di sepanjang jalan menyala hangat.Deretan mansion megah berdiri angkuh.Semuanya masih sama.Tidak ada yang berubah.Rumput-rumput dipangkas sempurna.Air mancur menyala indah.Petugas keamanan membungkuk hormat begitu tahu Kaluna yang mengemudikan mobil tersebut.Dengan perlahan mobil memasuki gerbang rumah keluarga Gunadhya.Namun anehnya—untuk pertama kalinya sejak kecil—Kaluna tidak lagi merasa pulang.Tangannya masih menggenggam setir erat.Napasnya memburu. Matanya sembab. Dan dadanya terasa begitu penuh.Bukan karena rindu. Melainkan karena marah.Karena hari ini—Kaluna datang bukan sebagai putri manja keluarga Gunadhya.Tapi sebagai istri Satria.Sebagai perempuan yang sedang memperjuangkan suaminya.Setelah mobil berhenti di area carport—Kaluna langsung turun.Tidak peduli rambutnya sedikit berantakan.Tidak peduli wajahnya p

  • Menantang Kasta   Pulang

    Senja mulai turun ketika mobil pick up milik bapak Sutisna memasuki halaman rumah.Udara Lembang terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis perlahan turun dari arah perbukitan, menyelimuti pepohonan dan kebun kecil di sekitar rumah.Di dalam mobil, Satria duduk di kursi penumpang sambil menyandarkan kepala ke kaca jendela.Hari ini tubuhnya lebih lelah dari biasanya.Seharian dia ikut bapak mengantar sayuran ke beberapa tempat, sekalian menemui beberapa kenalan bapak yang mungkin bisa membantunya mendapat pekerjaan lebih layak.Belum ada hasil.Tapi setidaknya—hari ini tidak seburuk hari-hari sebelumnya.Sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah.Dan begitu turun—hal pertama yang dicari Satria adalah Kaluna.Biasanya istrinya sudah berdiri di teras.Entah sambil membawa teh hangat.Entah sambil tersenyum lebar.Atau sekadar melambaikan tangan sambil memanggil—“Sayang!”Tapi sore ini tidak ada siapa-siapa.Satria mengernyit.“Luna mana?” tanyanya sambil melepas j

  • Menantang Kasta   Rencana Membantu Satria

    Ratu tidak tahu kalau di dalam kabin ada CCTV yang langsung tersambung ke ponsel Zyandru.Kini Zyandru hanya bisa menatap nanar gadis pujaan hatinya di layar yang masih belum berhenti menangis meski sudah dua jam pesawat tinggal landas.Zyandru mengunci layar ponselnya lalu mengembuskan nafas berat kemudian mematikan mesin mobil.Dia keluar dari mobil mewah itu, langkahnya terayun memasuki salah satu loby gedung pencakar langit di NewYork.Seorang petugas keamanan membungkuk penuh hormat.Zyandru terus melangkah menuju area lift yang akan mengantarnya ke depan sebuah pintu bertuliskan CEO.“Tuan Alterio ada di dalam,” kata seorang gadis cantik membukakan pintu.Senyumnya lebar, sorot matanya jernih.“Thanks.” Zyandru bergumam.“Dengan senang hati Tuan muda Gunadhya,” balasnya menggunakan bahasa Indonesia.Terlalu kenal dengan Zyandru, pernah terlalu dekat juga tapi tidak pernah bisa benar-benar masuk ke hati lelaki itu.“Bro!” seru Ryley dari kursi kebesarannya.“Gue mau c

  • Menantang Kasta   Sudah Saatnya

    Tapi baru saja Kama duduk di kursi kebesarannya.Suara pintu terdengar diketuk.Tok.Tok.“Masuk.”Pintu terbuka pelan.Seorang wanita paruh baya masuk dengan raut wajah tegang. Ia adalah kepala HRD AG Group pusat.“Maaf mengganggu, Pak Kama… ada hal penting yan

  • Menantang Kasta   Tidak Akan Mudah

    Ting ….Suara denting terdengar pertanda pintu lift akan terbuka.Davanka keluar dari dalam lift kemudian menderapkan langkah menuju ruangan CEO.Dari jauh, Satria sudah menangkap sosok Davanka.Dia keluar dari mejanya menyambut pria itu yang datang tanpa pemberitahuan, karena biasanya jika ada

  • Menantang Kasta   Dugaan Yang Menjadi Nyata

    Sore itu Zevanya sibuk menyiapkan makan malam, merapikan susunan piring dengan teliti di meja makan.Gaun rumahnya sederhana namun tetap memperlihatkan kelas seorang istri konglomerat.Rambutnya diikat rapi, beberapa helai jatuh lembut di sisi wajahnya.Dari kejauhan terdengar suara langkah keci

  • Menantang Kasta   Lamaran

    Mobil melaju kencang bahkan terlalu kencang.Jalanan Jakarta seperti kabur di mata Kaluna.Air mata mengalir tanpa henti. Tangannya mencengkeram setir.Dadanya naik turun tidak teratur.“Kenapa .…?” Suaranya bergetar.“Kenapa harus aku lagi .…?”Ia tertawa sumbang ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status