Sesampainya di perbatasan, prajurit yang mengantar Jaka langsung berhenti.“Di sini, Tuan,” katanya segan.Jaka ikut berhenti, menatap belantara yang siap menunggunya di depan sana.“Di sana?” tanya Jaka.“Bukan Tuan, bukan hutan itu. Itu hutan biasa, tapi hutan bayangan ada di baliknya.”Jaka mengernyit. “Di baliknya?”“Benar, Tuan. Saya memang tidak tahu pasti, karena kami hampir tidak pernah menyisir ke sana. Tapi konon katanya, jika Tuan sudah bertemu dengan kabut pekat, itu adalah batas Hutan Bayangan dan hutan biasa tersebut.”Jaka mengangguk pelan, menatap belantara yang tidak jauh lagi di hadapannya.“Hmm… baiklah. Kau boleh kembali,” kaya Jaka lagi.Namun prajurit itu tampak ragu, dia menatap Jaka dengan raut wajah gelisah.“Kenapa?” tanya Jaka heran.“Anu… apa Tuan yakin, hendak ke sana sendirian?”Jaka menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak tahu, tapi orang itu menginginkan aku ke sana sendirian. Aku tidak tau apa maksudnya, tapi… aku harus benar-benar ke sana. Rina dan Rini
Read more