เข้าสู่ระบบIstana Kerajaan Candra Mukti di malam hari lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi yang tenang. Sunyi yang dipilih. Raden Wisnupada berdiri di depan Raja Candra Mukti dengan satu kotak kecil di tangannya, kotak yang permukaannya tidak menunjukkan apapun tapi beratnya cukup untuk mengubah arah satu kerajaan. "Ini ditemukan di dekat perbatasan," katanya pelan. "Bersama sisa-sisa yang tidak bisa saya ceritakan dengan rinci tanpa membuat Kakanda berduka." Raja Candra Mukti menatap kotak itu. Tidak membukanya. "Kamu yakin?" tanya Raja. "Saya tidak mau yakin, Kakanda." Raden Wisnupada meletakkan kotak itu di meja dengan cara orang yang melakukan sesuatu yang sangat berat. "Tapi lambang yang ada di sana adalah lambang Sasana Anggrek Loka. Pembunuh bayaran yang selama ini digunakan Medang Raya untuk urusan yang tidak mau mereka akui." Raja Candra Mukti tidak bergerak. "Sekar," katanya pelan. "Kakanda—" "Sekar pergi ke perbatasan itu." "Ya." Raden Wisnupada menundukkan kepala. "Say
Bagas berlutut di depan Mbah Suro, menatap sesuatu gelap yang bergerak di bawah kulit sisi kiri dada itu, meluas pelan dengan cara yang kekuatan mentalnya tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan. Racun kultivasi. Tingkat tertinggi. "Mbah Suro, saya perlu memeriksa." "Tehnya masih hangat," kata Mbah Suro lagi. "Mbah." "Kamu mau teh?" Bagas mengalirkan energi Jalan Dewa ke ujung jari, membentuk Jarum Langit Satu Tusukan, menusuk tiga titik di sisi kiri dada Mbah Suro berurutan. Cahaya biru menyebar dari tiga titik itu. Berhenti di tepi racun. Tidak bisa masuk lebih dalam. Racun Kehancuran Seribu Dinasti terlalu pekat untuk Jarum Langit Satu Tusukan yang baru pertama kali dipakai dalam situasi darurat. Bagas menarik jarinya. Dewi Sekar berdiri di sebelahnya. "Bisa?" "Tidak cukup." "Pil Bulat Semesta." Bagas menatap Dewi Sekar. "Kamu yang bilang simpan untuk nanti," katanya. "Ini nanti," kata Dewi Sekar. Bagas merogoh kantong tak kasat mata di sisi Jalan Dewa, mengelu
Arya Wirabumi berdiri di tengah jalan hutan dengan tangan terlipat di belakang punggung. Sama persis seperti malam di istal. Tapi kali ini tidak ada atap penginapan, tidak ada jarak tiga ratus meter, tidak ada anak buah di sebelahnya. Hanya ia, jalan hutan, dan cahaya sore yang miring di antara pohon-pohon besar. "Jalan Dewa terbuka," katanya. Bukan pertanyaan. "Baru saja," kata Bagas. "Di gua perbatasan." "Kamu mengikuti dari tadi." "Saya mengikuti sejak istal." Arya Wirabumi melangkah maju dengan Langkah Pewaris Darah, setiap pijakan membawa tekanan yang berbeda. "Saya hanya menunggu waktu yang tepat." "Waktu yang tepat untuk apa?" tanya Dewi Sekar. Arya Wirabumi tidak menjawab Dewi Sekar. Ia menatap Bagas. "Jurus ketiga tidak boleh terbuka penuh," katanya. "Kamu tahu konsekuensinya." "Saya tahu konsekuensinya lebih baik dari kamu," kata Bagas. "Karena saya yang merasakannya dari dalam." "Maka serahkan tanda Naga sekarang sebelum jurus keempat mulai terbuka." "Tidak b
Suara Mbah Suro muda mengucapkan nama Bagas bergema di dalam Limbo. Kemudian semuanya pecah. Bukan pecah seperti mimpi yang berakhir, tapi pecah seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan akhirnya dilepaskan sekaligus, energi dari gua mengalir ke seluruh wadah Bagas dalam satu gelombang terakhir yang jauh lebih besar dari semua gelombang sebelumnya. Bagas tersadar di lantai batu gua. Tangan kiri terangkat di udara. Tanda Naga di telapak tangan tidak hitam pekat lagi. Biru. Biru yang lebih terang dari sebelumnya, bukan biru samar yang biasanya, tapi biru yang menerangi sebagian dinding gua di sekitarnya. Dewi Sekar berlutut di sebelahnya, menatap tanda Naga dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan apapun. "Kamu pingsan lagi," katanya. "Berapa lama?" "Dua belas menit." "Lebih lama dari biasanya." "Ya." Bagas duduk perlahan, merasakan sesuatu yang berbeda di seluruh tubuhnya, bukan sakit, bukan lelah, tapi seperti sesuatu yang baru saja dipasang di tempat yang sebelum
Dewi Sekar diam cukup lama setelah Bagas selesai bicara. Bukan diam karena tidak percaya. Diam seperti orang yang sedang menyusun ulang semua yang sudah ia susun sebelumnya dan menemukan bahwa susunan barunya lebih masuk akal dari yang lama tapi jauh lebih tidak menyenangkan. "Mbah Suro," katanya akhirnya. "Ya." "Guru kamu." "Ya." "Yang minum teh sepanjang waktu." "Ya." "Sang Naga Pertama." "Kemungkinan besar." Dewi Sekar menoleh ke tiga penjaga yang masih berdiri di antara pohon-pohon besar. "Kalian tahu ini," katanya, bukan pertanyaan. Penjaga tengah tidak langsung menjawab. "Kalian tahu siapa Mbah Suro sebenarnya." "Kami tahu ada satu orang yang menyimpan sebagian dari apa yang seharusnya sudah pergi tiga ratus tahun lalu," kata penjaga tengah pelan. "Kami tidak tahu namanya sekarang." "Tapi kamu baru bilang tahu," kata Bagas. "Kami tahu ada orang itu. Tidak tahu siapa orangnya di dunia sekarang." Bagas memproses perbedaan itu. "Jadi Sang Naga Pertama tidak mati
Gunung perbatasan mulai terlihat dari celah pohon dua jam sebelum mereka sampai di kakinya. Bukan karena gunungnya tinggi. Tapi karena kabut di puncaknya tidak bergerak meski angin di bawahnya cukup kencang untuk menggerakkan rambut Dewi Sekar ke kiri. Bagas menatap kabut itu sambil berjalan. Kekuatan mental memproses, meraba ke arah gunung dari jarak dua jam perjalanan, dan menemukan sesuatu di sana yang tidak ia temukan di hutan sekitarnya. Berat. Seperti udara di sekitar gunung itu lebih padat dari udara di tempat lain. "Kamu merasakan sesuatu?" tanya Dewi Sekar tanpa menoleh. "Ya." "Saya juga." Dewi Sekar menatap puncak yang berkabut. "Waktu kecil saya tidak merasakannya. Tapi waktu itu ranah saya masih rendah." "Sekarang kamu merasakan apa?" "Seperti gunung itu bernapas." Bagas memproses kalimat itu. "Deskripsi yang bagus," katanya. "Terima kasih." "Bukan pujian. Itu deskripsi yang akurat dan sedikit mengkhawatirkan." Mereka berjalan lagi dalam diam. Tanda Naga d
Mpu Jaga membuka pintu bengkel dengan wajah orang yang baru dibangunkan tengah malam dan tidak senang dengan keputusan itu. Ia menatap Bagas, menatap Dewi Sekar, menatap Lurah Kandang, lalu menatap kantong di tangan Lurah Kandang. "Dua puluh belati Besi Wulung," kata Lurah Kandang. "Semalam." "T
Tangan Arya Wirabumi bergerak maju. Dan Bagas memutuskan bahwa ia sudah cukup berlutut. Bukan karena tubuhnya tiba-tiba pulih. Tapi karena kekuatan mentalnya baru saja selesai menghitung satu kemungkinan terakhir yang belum pernah ia coba. Selama ini i
Merah. Bukan merah seperti bara api. Merah seperti sesuatu yang sudah lama tidur dan baru saja memutuskan untuk bangun karena situasinya sudah keterlaluan. Tanda Naga di telapak tangan Bagas berdenyut tiga kali berturut-turut, keras,
Arya Wirabumi tidak mengetuk gerbang. Gerbang yang sudah patah sejak delapan hari lalu itu menyingkir sendiri ketika ia melangkah masuk, papan-papan kayunya terlempar ke kanan dan kiri seolah tidak berani berdiri di jalurnya. Ia berjalan dengan langkah orang yang sudah menghitung j







