Tesa menggeliat, merapatkan pahanya lalu meringis saat merasakan nyeri di sana. Kesadarannya perlahan pulih. Pakaian yang dilucuti. Sofa yang berderit. Ciuman Duke.... Ia memejamkan mata, berusaha menghilangkan bayangan bagaimana liarnya mereka semalam. Atau lebih tepatnya Duke. Pendampingnya dulu, Siera, pernah berkata bahwa malam pertama itu menakutkan, rasanya seperti dirobek dan dikurung di lembah gelap, Tesa diharapkan seperti patung, diam tidak bergerak, menerima saat itu terjadi. Tapi semalam tidak. Duke tidak demikian, meski awalnya sakit luar biasa, tapi pria itu sangat lembut, ia memerhatikan Tesa, memastikan Tesa nyaman sebelum meraih miliknya sendiri. Dan untuk sesaat Tesa lupa akan masalahnya. Ia lupa bahwa inilah harga yang harus dibayar agar ia tetap hidup. Tesa
Baca selengkapnya