"Kau bisa bermain catur, Simon?"Jemari Lady Jasmine sangat terampil saat menyentuh salah satu bidak putih. Pembawaannya sangat anggun khas bangsawan. Sementara Tesa duduk di hadapannya dengan canggung.Mereka tidak ke mana-mana, sang Lady hanya memberi isyarat kecil ke arah meja dekat perapian, meja tempat papan catur yang tadi dilihat Tesa berdiri tenang, bidak-bidaknya tersusun rapi seolah memang menunggu.Ia mengangguk. "Sedikit, Yang Mulia," jawabnya hati-hati, tidak terlalu yakin. Papa pernah mengajarkannya, namun permainan ini bukan keahlian Tesa. "Bagus," Bidak pion putih maju satu langkah. "Kita bermain sebentar." Tesa langsung tahu ia berada dalam masalah. Lady Jasmine bermain tanpa ragu. Setiap gerakan cepat, presisi, tanpa jeda berpikir panjang. Seperti seseorang yang telah memainkan permainan ini sepanjang hidupnya.Sebaliknya, Tesa harus menahan diri agar tidak terlihat terlalu lama berpikir. Ia hanya tahu dasar-d
Last Updated : 2026-04-20 Read more