Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ben tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia menyetir tanpa menoleh, seolah orang yang duduk di sampingnya hanyalah orang asing yang tidak ada artinya.Di bawah tubuhku, ia melapisi kursi dengan beberapa alas pipis hewan peliharaan, takut aku mengotori jok mobilnya.Ia bahkan membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin menerpa masuk, membuatku menggigil.Katanya, bau darah di tubuhku membuatnya ingin muntah.Setelah sampai di rumah sakit, ia menyelesaikan administrasi dengan cepat, lalu meninggalkanku sendirian di kamar pasien.Seolah-olah sedang membuang beban yang tak tertahankan.Tapi untungnya, anakku selamat.Entah berapa lama berlalu, pintu kamar pasien terbuka.Aku kira itu Ben.Saat mengangkat kepala, yang kulihat justru wajah yang paling tak ingin kulihat.Lina.Di tangannya ada termos makanan, di wajahnya tersungging senyum lembut yang tampak sempurna.“Kak Ben mendadak ada urusan penting di kantor, dia tidak bisa datang. Jadi dia menyur
Read More