Share

Bab 3

Author: Flashback
Keesokan harinya, aku menggunakan uang ganti rugi dari Ben untuk membeli ponsel baru.

Lalu aku pergi ke bank untuk mencetak riwayat transaksi rekening gabungan kami.

Seperti yang aku duga, satu bulan yang lalu ada satu transaksi transfer sebesar 4 miliar.

Nama penerimanya adalah nama yang asing.

Tapi aku tahu, ke mana uang itu akhirnya mengalir.

Aku memotret slip mutasi rekening itu dan menyimpannya baik-baik.

Beberapa hari ini, Ben tidak pulang ke rumah.

Hanya ibu mertuaku yang masih tidak berhenti menyalahkanku.

Aku pun mengurung diri di kamar, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, juga tidak memasak lagi.

Kubiarkan saja ia mengomel.

Aku akan bercerai. Aku akan mendapatkan bagian dari harta bersama.

Satu foto saja tidak cukup.

Aku butuh lebih banyak, bukti yang lebih kuat.

Saat keluar ke ruang tamu untuk minum, aku melihat pintu ruang kerja Ben sedikit terbuka.

Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalaku.

Aku ingat dia punya satu ponsel cadangan, khusus untuk mengurus "pekerjaan pribadi".

Ponsel itu disimpan di dalam laci meja ruang kerjanya.

Saat ibu mertua pergi ke dapur untuk mengambil air, aku diam-diam menyelinap masuk ke ruang kerja.

Aku membuka laci.

Benar saja, ponsel hitam itu tergeletak dengan tenang di dalamnya.

Terkunci dengan kata sandi.

Aku mencoba tanggal lahir Ben, salah.

Mencoba tanggal lahirku, tetap salah.

Lalu, aku memasukkan tanggal lahir Lina.

Berhasil terbuka.

Begitu membuka galeri, tubuhku seketika terasa dingin.

Yang terlihat di depan mata, semuanya adalah foto-foto mesra Ben dan Lina.

Mereka berciuman di tepi pantai, berpelukan di restoran mewah, bahkan … berswafoto di ranjang suami istri milik kami.

Lina mengenakan gaun tidur sutra milikku, tersenyum menantang.

Tanggal pada foto itu adalah hari ketika aku dirawat di rumah sakit karena muntah hebat akibat hamil.

Sambil merekam dengan ponselku, aku terus menggulir ke bawah.

Hatiku terasa seperti disayat-sayat.

Setiap dia absen sebagai seorang suami, tanpa kecuali, ternyata waktunya dihabiskan bersama Lina.

Air mata mengalir tak terkendali, mengaburkan pandanganku.

“Apa yang kamu lakukan?!”

Teriakan keras meledak di belakangku.

Tubuhku bergetar, ponsel Ben terjatuh ke lantai.

Ben melangkah cepat menghampiri untuk mengambil ponselnya.

Aku dengan sigap menyembunyikan ponselku sendiri.

Saat kembali menatapnya, amarah yang meluap di matanya hampir menelanku hidup-hidup.

Ia mencengkeram pergelangan tanganku, begitu kuat hingga terasa seperti akan meremukkannya.

“Sandra, kamu masih punya rasa malu atau tidak? Berani sekali kamu menyentuh barangku!”

Ben mengangkat tangan dan membanting ponsel itu dengan keras ke dinding.

“Kamu pikir kamu sudah menangkap kelemahanku? Hah?!”

Ia mendekat, jarinya menunjuk tepat ke hidungku.

“Aku beri tahu kamu, sekalipun kamu melihat semuanya, memangnya kenapa? Aku memang ada hubungan dengan dia, kamu mau apa?”

“Cerai? Memang kamu berani? Setelah bercerai, kamu cuma wanita yang tidak punya apa-apa! Anak haram di perutmu itu juga jangan harap bisa mengambil sepeser pun dari Keluarga Harsono!”

Anak haram ....

Anak yang sudah aku kandung selama tujuh bulan ini disebut anak haram oleh ayah kandungnya sendiri.

Aku tak mampu lagi menahan diri. Tanganku terangkat dan menamparnya keras.

“Ben, kamu bajingan!”

Tamparan itu benar-benar menyulut amarahnya.

Matanya memerah, seperti binatang buas yang kehilangan akal.

Ia mencengkeram kerah bajuku dan mendorongku dengan kasar ke belakang.

“Kamu berani memukulku?!”

Aku tidak siap, tubuhku terhuyung ke belakang, pinggangku menghantam sudut meja dengan keras.

Rasa sakit yang tajam menjalar, aku meringkuk kesakitan.

Namun tak ada sedikit pun belas kasihan di wajah Ben. Ia justru membungkuk, mencengkeram daguku.

“Sandra, aku peringatkan kamu. Jangan menguji batasanku.”

“Kalau terulang lagi, aku tidak keberatan membuatmu dan anak haram itu lenyap dari dunia ini.”

Kata-katanya seperti pecahan es beracun, menusuk dalam ke jantungku.

Perutku tiba-tiba kram hebat.

Sebuah rasa hangat mengalir dari bawah tubuhku.

Aku pun membelalakkan mata dalam ketakutan.

“Darah … aku berdarah .…”

Ben menunduk melihat hal itu, di wajah tampannya akhirnya muncul secercah kepanikan.

Namun ia tidak segera membantuku berdiri. Tidak juga memanggil ambulans.

Ia hanya menatapku dan berkata dengan dingin, “Jangan sentuh aku.”

“Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang berlumuran darah itu.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 9

    Kehidupan setelah perceraian ternyata lebih tenang dari yang aku bayangkan.Ben menepati isi perjanjian itu.Rumah dan mobil telah dialihkan atas namaku.Tiga puluh persen saham perusahaan juga dipindahkan kepadaku.Dalam semalam, dari seorang ibu rumah tangga yang bergantung pada orang lain, aku berubah menjadi wanita kaya yang punya aset besar.Aku tidak tinggal di kota yang penuh kenangan buruk itu.Aku menjual rumah tersebut, membawa uang dalam jumlah besar itu, dan kembali ke kota tempat orang tuaku tinggal.Dengan uang itu, aku membeli sebuah apartemen luas di tempat aku dibesarkan.Aku pun mengajak orang tuaku tinggal bersama.Sisa uangnya, aku gunakan untuk mendirikan studio investasi kecil.Aku berinvestasi di bidang yang kukenal dan kuasai.Setiap hari terasa sibuk namun bermakna.Bayi di dalam kandunganku juga tumbuh hari demi hari, gerakan tendangannya semakin kuat.Seolah memberi tahuku bahwa dia baik-baik saja.Sesekali, dari Kiara aku mendengar kabar tentang Ben dan Lina

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 8

    “Kesempatan?”Aku menatap Ben dengan sinis dari atas.“Kurang banyak apa kesempatan yang sudah kuberikan padamu?”“Saat aku hamil dan muntah-muntah, saat aku paling membutuhkanmu, di mana kamu?”“Saat aku dipersulit ibumu dan dihina selingkuhanmu, di mana kamu?”“Saat aku kamu dorong hingga hampir keguguran dan terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, apa yang kamu lakukan?”“Kamu membela selingkuhanmu, menyalahkanku karena membuat keributan, bahkan sampai memukulku.”Setiap satu kalimat yang kuucapkan beriringan dengan kepala Ben yang semakin tertunduk.Wajah ibu mertuaku juga semakin muram.“Aku sudah memberimu kesempatan.”“Sayangnya, kamu tidak pernah menghargainya.”Setelah itu, aku kembali mendorong pena dan surat perjanjian cerai ke hadapan Ben.“Tanda tangani ini.”“Ini jalan terbaikmu, dan satu-satunya jalan keluar.”Pengacara Ben saat ini juga sudah sepenuhnya menyerah.Ia mendekat ke telinga Ben dan berbisik pelan, “Pak Ben, tanda tangani saja. Selama kita berhasil sela

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 7

    Keesokan harinya, aku berdandan dengan rapi.Saat aku muncul di ruang rapat Kantor Pengacara Deril, Ben dan ibu mertuaku sama-sama terpaku kaget.Mungkin mereka mengira akan melihat seorang istri terlantar yang kurus kering dan menangis setiap hari.Tapi yang mereka lihat justru aku yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya, bahkan … lebih kuat.“Sandra .…” Ben ingin maju untuk menarikku.Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Jangan sentuh aku.”Aku menatapnya dan mengulangi kata-kata yang dulu pernah ia ucapkan padaku.“Aku jijik padamu, kamu kotor.”Wajahnya langsung pucat pasi. Tangan yang terulur itu menggantung canggung di udara.Ibu mertuaku melihat situasi itu dan segera maju.“Sandra! Sikap apa itu! Ben sudah baik-baik datang menjemputmu, jangan tidak tahu diri!”Kiara melangkah maju dan berdiri di depanku.“Nyonya, tolong jaga ucapan Anda.”“Sekarang klien saya sedang membicarakan perceraian dengan putra Anda. Jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi, silakan keluar

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, aku benar-benar mengasingkan diri dari dunia.Ponselku tetap mati. Setiap hari, selain makan dan tidur, aku hanya berhubungan satu jalur dengan Kiara.Efisiensi Kiara sangat tinggi.Ia dengan cepat menemukan semuanya.Transfer 400 juta itu penerimanya adalah sepupu laki-laki Lina.Sehari setelah uang masuk, Lina membayar uang muka sebuah apartemen di kompleks paling mewah di pusat kota.Dan Ben ... bukan hanya memberinya 400 juta itu.Detektif swasta yang disewa Kiara menemukan bahwa dalam setengah tahun terakhir, Ben memanfaatkan jabatannya untuk menggelapkan dana dari perusahaan keluarganya sendiri dengan alasan penggantian biaya fiktif dan dana proyek palsu.Jumlahnya hampir 6 miliar.Dan sebagian besar uang itu mengalir ke Lina dan keluarganya.Ini bukan lagi sekadar kasus perselingkuhan dalam pernikahan.Ini penggelapan dana, penyalahgunaan jabatan, kejahatan bisnis.Ketika Kiara meletakkan setumpuk dokumen tebal di depanku, aku justru merasa tenang.“S

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 5

    Ekspresi di wajah Ben langsung membeku.Barangkali dalam mimpinya pun ia tak menyangka, di saat seperti ini aku masih menyimpan satu langkah cadangan.“Kamu!”Refleks ia menerjang ke depan, merebut alat perekam itu dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping.Melihat ekspresi lega di wajahnya, aku justru tertawa pelan.“Ben, kamu pikir aku bodoh?”“Itu cuma salinan. Saat aku menekan tombol berhenti tadi, rekamannya sudah otomatis terunggah lewat Bluetooth ke penyimpanan pribadiku.”“Dan juga diamankan dengan sandi. Di dunia ini, hanya aku yang tahu kata sandinya.”Sejak aku menghubungi Kiara, aku sudah mempersiapkan perceraian yang mungkin terjadi setiap saat.“Sandra, kamu berani mengancamku?!”Suara Ben terdengar berubah karena campuran marah dan takut.“Aku tidak mengancammu.”Aku menyingkap selimut, turun dari ranjang perlahan, lalu memakai sepatu.Setiap langkahku mantap.“Aku hanya menyampaikan sebuah fakta.”“Apa yang barusan kamu katakan sudah cukup membuatmu kalah telak d

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 4

    Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ben tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia menyetir tanpa menoleh, seolah orang yang duduk di sampingnya hanyalah orang asing yang tidak ada artinya.Di bawah tubuhku, ia melapisi kursi dengan beberapa alas pipis hewan peliharaan, takut aku mengotori jok mobilnya.Ia bahkan membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin menerpa masuk, membuatku menggigil.Katanya, bau darah di tubuhku membuatnya ingin muntah.Setelah sampai di rumah sakit, ia menyelesaikan administrasi dengan cepat, lalu meninggalkanku sendirian di kamar pasien.Seolah-olah sedang membuang beban yang tak tertahankan.Tapi untungnya, anakku selamat.Entah berapa lama berlalu, pintu kamar pasien terbuka.Aku kira itu Ben.Saat mengangkat kepala, yang kulihat justru wajah yang paling tak ingin kulihat.Lina.Di tangannya ada termos makanan, di wajahnya tersungging senyum lembut yang tampak sempurna.“Kak Ben mendadak ada urusan penting di kantor, dia tidak bisa datang. Jadi dia menyur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status