Share

Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal
Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal
Author: Flashback

Bab 1

Author: Flashback
“Ben, apa maksudmu?”

Pertanyaanku lirih, tetapi cukup membuat ibu dan anak yang duduk di ruang tamu itu berhenti bergerak bersamaan.

Ben melempar tisu basah yang baru dipakainya dengan tepat ke tempat sampah.

“Kamu tidak mengerti bahasa manusia?”

“Aku bilang jangan sentuh aku.”

Nada suaranya penuh dengan rasa jengkel tanpa ditutupi sedikit pun. Setiap katanya seperti jarum es yang menusuk kulitku.

Mertuaku pun segera ikut menyahut, “Waktu aku hamil dulu, aku tetap mengurus semua pekerjaan rumah untuk suamiku. Bahkan sandal suamiku pun aku cuci sendiri.”

“Kalau kamu? Jadi ibu rumah tangga saja tidak becus. Berantakan seharian, pantas saja Ben tidak menyukaimu.”

Melihat ibu dan anak itu kompak menyerangku, aku justru tersenyum.

Celemek yang kupakai itu terciprat noda minyak saat memasak untuk Ben.

Gaun katun longgarku juga kupakai untuk menutupi perutku yang sedang mengandung anak Ben.

Dan sandal terbuka agar kakiku yang bengkak karena hamil mudah keluar-masuk.

Itulah yang ia sebut berantakan.

“Mengenai Ben punya germofobia, aku lebih tahu dari siapa pun.

Karena itu setiap hari aku mengepel lantai tiga kali dengan disinfektan. Piring dan sumpit selalu aku masukkan ke lemari sterilisasi. Bahkan tidak ada setitik debu pun di sudut rumah.”

“Apa Ibu tidak bisa melihatnya?”

Mertuaku terdiam sesaat karena tak mampu membalas, lalu wajahnya memerah marah.

“Kamu menjemur baju bayi di balkon, tahu tidak berapa banyak debu dan bakteri yang menempel?”

Ia menunjuk ke arah balkon.

Di sana tergantung pakaian bayi yang baru saja aku cuci dan keringkan hari ini.

Setiap helainya aku cuci sendiri, menggunakan detergen khusus bayi yang paling mahal.

Sekarang, di mulut mereka, itu pun berubah menjadi bukti kalau aku tidak bersih.

“Cuci ulang pakaian itu.” Ben berkata dingin.

“Siram dengan air mendidih, lalu masukkan ke pengering. Jangan pernah jemur di luar lagi.”

“Menjijikkan.”

Rasa jijik yang tak ditutup-tutupi itu membuat jantungku terasa diremas.

Aku hanya berdiri di tempat, tak bergerak.

“Ben, pakaian itu bersih.”

“Sebenarnya apa yang kamu ributkan?”

Ia akhirnya mengangkat kepala dan menatapku. Wajah yang dulu membuatku jatuh hati itu kini hanya menyisakan ekspresi dingin dan rasa jijik.

“Aku ribut?”

“Sandra, kamu yang makin lama makin tidak masuk akal.”

“Aku hanya menuntut sedikit soal kualitas hidup. Apa itu salah?”

“Kamu boleh saja tidak peduli, tapi jangan seret anakku untuk hidup bersamamu di tumpukan sampah.”

Tumpukan sampah ....

Rumah yang aku anggap harta paling berharga, yang setiap hari aku rawat dengan sepenuh hati, di mulut Ben berubah menjadi tumpukan sampah.

Tubuhku gemetar karena marah.

“Di matamu, bersih itu apa?”

“Apa jika aku menghilang, rumah ini baru bisa dianggap benar-benar bersih?”

Pertanyaanku membuat Ben murka.

“Kamu menggila karena apa lagi sekarang?!”

“Benar-benar tidak masuk akal!”

Ia tiba-tiba berdiri. Karena gerakannya terlalu kasar, sebuah pot tanaman di sampingnya tersenggol hingga jatuh.

Pot itu pecah. Tanah dan serpihannya pun berserakan di lantai.

Ben segera melompat menjauh, lalu menunjuk kekacauan itu sambil berteriak padaku, “Kenapa hanya berdiri? Cepat bersihkan!”

“Melihat saja sudah bikin kesal!”

Mertuaku ikut menimpali, “Benar. Tidak peka sama sekali! Keluarga kami benar-benar sial menikahimu!”

Aku memandang lantai yang berantakan, lalu melihat wajah ibu dan anak itu yang sama-sama sinis dan penuh kepahitan.

Tanpa berkata apa-apa, aku berjalan ke dapur dan menuang empat lauk dan satu sup yang baru saja kumasak ke dalam tempat sampah.

Ben mendengar suaranya dan bergegas ke depan pintu dapur.

“Apa yang kamu lakukan?!”

“Aku belum makan!”

Aku berbalik dan menatapnya dengan tenang.

“Terlalu kotor.”

“Aku takut perut Anda yang terhormat, sakit kalau memakannya.”

Setelah berkata demikian, aku melepas celemek dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu aku masuk ke kamar tidur, menutup pintu, dan menguncinya dari dalam.

“Kamu!”

Ben yang murka hendak mengejar, tetapi terhalang pintu.

Aku bersandar pada daun pintu, tubuhku perlahan meluncur turun hingga terduduk di lantai.

Di layar ponselku, wajah menantang milik Lina masih menyala terang.

Aku mengangkat ponsel, pesan itu tidak aku hapus, tidak pula kubalas.

Aku hanya menyimpan foto itu, bersama kalimat jahat yang menyertainya.

Lalu, aku membuka ruang percakapan yang lain.

[Sudah tidur? Tolong bantu aku selidiki seseorang.]

[Aku mau bercerai.]
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 9

    Kehidupan setelah perceraian ternyata lebih tenang dari yang aku bayangkan.Ben menepati isi perjanjian itu.Rumah dan mobil telah dialihkan atas namaku.Tiga puluh persen saham perusahaan juga dipindahkan kepadaku.Dalam semalam, dari seorang ibu rumah tangga yang bergantung pada orang lain, aku berubah menjadi wanita kaya yang punya aset besar.Aku tidak tinggal di kota yang penuh kenangan buruk itu.Aku menjual rumah tersebut, membawa uang dalam jumlah besar itu, dan kembali ke kota tempat orang tuaku tinggal.Dengan uang itu, aku membeli sebuah apartemen luas di tempat aku dibesarkan.Aku pun mengajak orang tuaku tinggal bersama.Sisa uangnya, aku gunakan untuk mendirikan studio investasi kecil.Aku berinvestasi di bidang yang kukenal dan kuasai.Setiap hari terasa sibuk namun bermakna.Bayi di dalam kandunganku juga tumbuh hari demi hari, gerakan tendangannya semakin kuat.Seolah memberi tahuku bahwa dia baik-baik saja.Sesekali, dari Kiara aku mendengar kabar tentang Ben dan Lina

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 8

    “Kesempatan?”Aku menatap Ben dengan sinis dari atas.“Kurang banyak apa kesempatan yang sudah kuberikan padamu?”“Saat aku hamil dan muntah-muntah, saat aku paling membutuhkanmu, di mana kamu?”“Saat aku dipersulit ibumu dan dihina selingkuhanmu, di mana kamu?”“Saat aku kamu dorong hingga hampir keguguran dan terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, apa yang kamu lakukan?”“Kamu membela selingkuhanmu, menyalahkanku karena membuat keributan, bahkan sampai memukulku.”Setiap satu kalimat yang kuucapkan beriringan dengan kepala Ben yang semakin tertunduk.Wajah ibu mertuaku juga semakin muram.“Aku sudah memberimu kesempatan.”“Sayangnya, kamu tidak pernah menghargainya.”Setelah itu, aku kembali mendorong pena dan surat perjanjian cerai ke hadapan Ben.“Tanda tangani ini.”“Ini jalan terbaikmu, dan satu-satunya jalan keluar.”Pengacara Ben saat ini juga sudah sepenuhnya menyerah.Ia mendekat ke telinga Ben dan berbisik pelan, “Pak Ben, tanda tangani saja. Selama kita berhasil sela

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 7

    Keesokan harinya, aku berdandan dengan rapi.Saat aku muncul di ruang rapat Kantor Pengacara Deril, Ben dan ibu mertuaku sama-sama terpaku kaget.Mungkin mereka mengira akan melihat seorang istri terlantar yang kurus kering dan menangis setiap hari.Tapi yang mereka lihat justru aku yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya, bahkan … lebih kuat.“Sandra .…” Ben ingin maju untuk menarikku.Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Jangan sentuh aku.”Aku menatapnya dan mengulangi kata-kata yang dulu pernah ia ucapkan padaku.“Aku jijik padamu, kamu kotor.”Wajahnya langsung pucat pasi. Tangan yang terulur itu menggantung canggung di udara.Ibu mertuaku melihat situasi itu dan segera maju.“Sandra! Sikap apa itu! Ben sudah baik-baik datang menjemputmu, jangan tidak tahu diri!”Kiara melangkah maju dan berdiri di depanku.“Nyonya, tolong jaga ucapan Anda.”“Sekarang klien saya sedang membicarakan perceraian dengan putra Anda. Jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi, silakan keluar

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, aku benar-benar mengasingkan diri dari dunia.Ponselku tetap mati. Setiap hari, selain makan dan tidur, aku hanya berhubungan satu jalur dengan Kiara.Efisiensi Kiara sangat tinggi.Ia dengan cepat menemukan semuanya.Transfer 400 juta itu penerimanya adalah sepupu laki-laki Lina.Sehari setelah uang masuk, Lina membayar uang muka sebuah apartemen di kompleks paling mewah di pusat kota.Dan Ben ... bukan hanya memberinya 400 juta itu.Detektif swasta yang disewa Kiara menemukan bahwa dalam setengah tahun terakhir, Ben memanfaatkan jabatannya untuk menggelapkan dana dari perusahaan keluarganya sendiri dengan alasan penggantian biaya fiktif dan dana proyek palsu.Jumlahnya hampir 6 miliar.Dan sebagian besar uang itu mengalir ke Lina dan keluarganya.Ini bukan lagi sekadar kasus perselingkuhan dalam pernikahan.Ini penggelapan dana, penyalahgunaan jabatan, kejahatan bisnis.Ketika Kiara meletakkan setumpuk dokumen tebal di depanku, aku justru merasa tenang.“S

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 5

    Ekspresi di wajah Ben langsung membeku.Barangkali dalam mimpinya pun ia tak menyangka, di saat seperti ini aku masih menyimpan satu langkah cadangan.“Kamu!”Refleks ia menerjang ke depan, merebut alat perekam itu dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping.Melihat ekspresi lega di wajahnya, aku justru tertawa pelan.“Ben, kamu pikir aku bodoh?”“Itu cuma salinan. Saat aku menekan tombol berhenti tadi, rekamannya sudah otomatis terunggah lewat Bluetooth ke penyimpanan pribadiku.”“Dan juga diamankan dengan sandi. Di dunia ini, hanya aku yang tahu kata sandinya.”Sejak aku menghubungi Kiara, aku sudah mempersiapkan perceraian yang mungkin terjadi setiap saat.“Sandra, kamu berani mengancamku?!”Suara Ben terdengar berubah karena campuran marah dan takut.“Aku tidak mengancammu.”Aku menyingkap selimut, turun dari ranjang perlahan, lalu memakai sepatu.Setiap langkahku mantap.“Aku hanya menyampaikan sebuah fakta.”“Apa yang barusan kamu katakan sudah cukup membuatmu kalah telak d

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 4

    Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ben tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia menyetir tanpa menoleh, seolah orang yang duduk di sampingnya hanyalah orang asing yang tidak ada artinya.Di bawah tubuhku, ia melapisi kursi dengan beberapa alas pipis hewan peliharaan, takut aku mengotori jok mobilnya.Ia bahkan membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin menerpa masuk, membuatku menggigil.Katanya, bau darah di tubuhku membuatnya ingin muntah.Setelah sampai di rumah sakit, ia menyelesaikan administrasi dengan cepat, lalu meninggalkanku sendirian di kamar pasien.Seolah-olah sedang membuang beban yang tak tertahankan.Tapi untungnya, anakku selamat.Entah berapa lama berlalu, pintu kamar pasien terbuka.Aku kira itu Ben.Saat mengangkat kepala, yang kulihat justru wajah yang paling tak ingin kulihat.Lina.Di tangannya ada termos makanan, di wajahnya tersungging senyum lembut yang tampak sempurna.“Kak Ben mendadak ada urusan penting di kantor, dia tidak bisa datang. Jadi dia menyur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status