Share

Bab 2

Author: Flashback
Pesan berhasil terkirim.

Aku mendongak.

Sebuah cincin pernikahan yang berkilau tiba-tiba masuk ke pandanganku.

Ujung hidungku mendadak terasa perih.

Aku dan Ben bertemu saat lomba debat di kampus.

Waktu itu, dia tidak punya germofobia.

Dia akan menghabiskan makanan yang tak bisa aku habiskan.

Dia akan minum teh susu bersamaku menggunakan sedotan yang sama.

Saat aku menstruasi, dia bahkan tak keberatan membantuku mencuci seprai yang ternoda.

Setelah menikah, dia selalu mengingat hari jadi kami dan selalu menyiapkan kejutan lebih awal.

Sampai aku hamil ....

Pada awal kehamilan, karena pengaruh hormon, apa pun yang kumakan selalu kumuntahkan. Tubuhku melemah, wajahku pucat dan lesu.

Awalnya Ben sangat mengkhawatirkanku. Ia memelukku untuk menenangkan aku.

Tapi perlahan-lahan, ia tak lagi memelukku lebih dulu. Ia juga semakin jarang pulang tepat waktu.

Kemudian, ia mulai bilang aku "kotor".

Katanya kamar mandi yang kupakai untuk muntah membuatnya jijik. Katanya tubuhku memiliki "bau asam ibu hamil".

Ia mulai tidur di kamar terpisah.

Aku mengira ini hanya retakan biasa selama masa kehamilan. Setelah anak lahir, semuanya pasti akan membaik.

Sampai Lina muncul.

Lina adalah asisten baru Ben, dia muda, cantik, pandai mengambil hati.

Aku dengan tajam menangkap hubungan tak biasa di antara mereka.

Tatapan Lina pada Ben terlalu panas, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikannya.

Dan Ben pun bersikap berbeda pada Lina.

Ben mengingat kalau Lina tidak bisa makan daun ketumbar.

Ben mengambilkan makanan untuk Lina.

Bahkan saat Lina melontarkan lelucon, Ben tertawa lepas, tawa yang sudah lama tak pernah kudengar lagi.

Namun aku tak punya bukti.

Ting!

Nada notifikasi ponsel memutus lamunanku.

Itu pesan dari sahabatku, Kiara.

[Lina Aska, orang asli Kota Santara, lahir 11 Februari 1999. Alamat rumah di Santara Selatan No. 69. Kedua orang tuanya sudah meninggal.]

Terlampir sebuah foto.

Di foto itu, Ben sedang memakaikan kalung ke Lina.

Aku mengenali kalung itu.

Itu adalah hadiah yang dulu dijanjikan Ben demi menenangkan aku selama masa kehamilan.

Namun aku menunggu tiga bulan, dan yang kudapat hanya kalimat dingin dari lelaki itu, “Menghabiskan ratusan juta untuk sebuah kalung itu tidak sepadan.”

Tapi sekarang, kalung yang katanya tidak sepadan itu terpasang di leher wanita lain.

Bukan tidak sepadan.

Akulah yang tidak layak.

Amarah dan rasa terhina menjalar seperti sulur, melilit jantungku erat-erat.

Pukul sebelas malam, terdengar suara kunci diputar.

Saat mata kami bertemu, Ben tertegun sejenak, seolah tak menyangka aku belum tidur.

Dengan tatapan dingin, kuangkat ponsel dan menyodorkan foto dirinya bersama Lina tepat di depan wajahnya.

“Jelaskan.”

Melihat foto itu, alis Ben berkerut.

Ia bahkan malas mencari alasan.

“Kamu menyelidiki aku?”

Ia merebut ponselku dan membantingnya keras ke lantai.

Layar ponsel seketika pecah berkeping-keping.

“Sandra, kamu ini gila ya? Kenapa sekarang kamu jadi begitu materialistis dan paranoid?”

“Aku cuma membelikan hadiah untuk rekan kerja. Itu cuma basa-basi dalam pekerjaan, kamu mengerti tidak?”

“Kamu cuma di rumah seharian, tidak melakukan apa-apa. Otakmu isinya cuma hal-hal kacau seperti ini?”

Ia menudingku dengan sombong, seolah akulah yang membuat keributan tanpa alasan.

“Basa-basi?”

“Kalung ratusan juta kamu sebut basa-basi?”

“Ben, kamu pikir aku ini bodoh?”

Ben tiba-tiba meraung, wajahnya berubah garang dan menakutkan.

“Kamu memang wanita gila!”

“Aku beri tahu kamu, Sandra, rumah tangga ini aku yang menghidupi! Aku yang menghasilkan uang!”

“Aku pakai sesuka hatiku, kamu tidak berhak mengatur!”

“Kalau kamu masih berani bikin keributan seperti ini, aku tidak akan memberimu satu sen pun lagi!”

“Kita lihat bagaimana kamu dan anakmu bisa bertahan hidup!”

Mengontrol finansial.

Akhirnya Ben menanggalkan topeng terakhirnya, memperlihatkan taringnya yang paling buruk.

Aku memandangnya, tiba-tiba merasa sangat lelah.

Di dadaku seperti ada lubang besar yang robek, angin dingin berembus masuk tanpa henti.

Aku tidak lagi mendebat, aku hanya berbicara dengan tenang, “Ponselku, lima juta enam ratus.”

“Kamu yang membantingnya. Ganti.”

Mungkin Ben tak menyangka aku akan mengatakan itu. Ia tertegun sesaat, lalu menarik setumpuk uang tunai dari dompetnya dan melemparkannya ke wajahku.

“Cukup tidak?”

“Kalau kurang, aku tambah lagi!”

Uang kertas merah berserakan di lantai, seakan mengejek aku dengan hina dalam diam.

Aku tidak memungutnya.

Aku hanya mengangkat selimut, berbaring, dan membelakangi Ben.

“Keluar.”

“Aku jijik padamu.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 9

    Kehidupan setelah perceraian ternyata lebih tenang dari yang aku bayangkan.Ben menepati isi perjanjian itu.Rumah dan mobil telah dialihkan atas namaku.Tiga puluh persen saham perusahaan juga dipindahkan kepadaku.Dalam semalam, dari seorang ibu rumah tangga yang bergantung pada orang lain, aku berubah menjadi wanita kaya yang punya aset besar.Aku tidak tinggal di kota yang penuh kenangan buruk itu.Aku menjual rumah tersebut, membawa uang dalam jumlah besar itu, dan kembali ke kota tempat orang tuaku tinggal.Dengan uang itu, aku membeli sebuah apartemen luas di tempat aku dibesarkan.Aku pun mengajak orang tuaku tinggal bersama.Sisa uangnya, aku gunakan untuk mendirikan studio investasi kecil.Aku berinvestasi di bidang yang kukenal dan kuasai.Setiap hari terasa sibuk namun bermakna.Bayi di dalam kandunganku juga tumbuh hari demi hari, gerakan tendangannya semakin kuat.Seolah memberi tahuku bahwa dia baik-baik saja.Sesekali, dari Kiara aku mendengar kabar tentang Ben dan Lina

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 8

    “Kesempatan?”Aku menatap Ben dengan sinis dari atas.“Kurang banyak apa kesempatan yang sudah kuberikan padamu?”“Saat aku hamil dan muntah-muntah, saat aku paling membutuhkanmu, di mana kamu?”“Saat aku dipersulit ibumu dan dihina selingkuhanmu, di mana kamu?”“Saat aku kamu dorong hingga hampir keguguran dan terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, apa yang kamu lakukan?”“Kamu membela selingkuhanmu, menyalahkanku karena membuat keributan, bahkan sampai memukulku.”Setiap satu kalimat yang kuucapkan beriringan dengan kepala Ben yang semakin tertunduk.Wajah ibu mertuaku juga semakin muram.“Aku sudah memberimu kesempatan.”“Sayangnya, kamu tidak pernah menghargainya.”Setelah itu, aku kembali mendorong pena dan surat perjanjian cerai ke hadapan Ben.“Tanda tangani ini.”“Ini jalan terbaikmu, dan satu-satunya jalan keluar.”Pengacara Ben saat ini juga sudah sepenuhnya menyerah.Ia mendekat ke telinga Ben dan berbisik pelan, “Pak Ben, tanda tangani saja. Selama kita berhasil sela

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 7

    Keesokan harinya, aku berdandan dengan rapi.Saat aku muncul di ruang rapat Kantor Pengacara Deril, Ben dan ibu mertuaku sama-sama terpaku kaget.Mungkin mereka mengira akan melihat seorang istri terlantar yang kurus kering dan menangis setiap hari.Tapi yang mereka lihat justru aku yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya, bahkan … lebih kuat.“Sandra .…” Ben ingin maju untuk menarikku.Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Jangan sentuh aku.”Aku menatapnya dan mengulangi kata-kata yang dulu pernah ia ucapkan padaku.“Aku jijik padamu, kamu kotor.”Wajahnya langsung pucat pasi. Tangan yang terulur itu menggantung canggung di udara.Ibu mertuaku melihat situasi itu dan segera maju.“Sandra! Sikap apa itu! Ben sudah baik-baik datang menjemputmu, jangan tidak tahu diri!”Kiara melangkah maju dan berdiri di depanku.“Nyonya, tolong jaga ucapan Anda.”“Sekarang klien saya sedang membicarakan perceraian dengan putra Anda. Jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi, silakan keluar

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, aku benar-benar mengasingkan diri dari dunia.Ponselku tetap mati. Setiap hari, selain makan dan tidur, aku hanya berhubungan satu jalur dengan Kiara.Efisiensi Kiara sangat tinggi.Ia dengan cepat menemukan semuanya.Transfer 400 juta itu penerimanya adalah sepupu laki-laki Lina.Sehari setelah uang masuk, Lina membayar uang muka sebuah apartemen di kompleks paling mewah di pusat kota.Dan Ben ... bukan hanya memberinya 400 juta itu.Detektif swasta yang disewa Kiara menemukan bahwa dalam setengah tahun terakhir, Ben memanfaatkan jabatannya untuk menggelapkan dana dari perusahaan keluarganya sendiri dengan alasan penggantian biaya fiktif dan dana proyek palsu.Jumlahnya hampir 6 miliar.Dan sebagian besar uang itu mengalir ke Lina dan keluarganya.Ini bukan lagi sekadar kasus perselingkuhan dalam pernikahan.Ini penggelapan dana, penyalahgunaan jabatan, kejahatan bisnis.Ketika Kiara meletakkan setumpuk dokumen tebal di depanku, aku justru merasa tenang.“S

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 5

    Ekspresi di wajah Ben langsung membeku.Barangkali dalam mimpinya pun ia tak menyangka, di saat seperti ini aku masih menyimpan satu langkah cadangan.“Kamu!”Refleks ia menerjang ke depan, merebut alat perekam itu dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping.Melihat ekspresi lega di wajahnya, aku justru tertawa pelan.“Ben, kamu pikir aku bodoh?”“Itu cuma salinan. Saat aku menekan tombol berhenti tadi, rekamannya sudah otomatis terunggah lewat Bluetooth ke penyimpanan pribadiku.”“Dan juga diamankan dengan sandi. Di dunia ini, hanya aku yang tahu kata sandinya.”Sejak aku menghubungi Kiara, aku sudah mempersiapkan perceraian yang mungkin terjadi setiap saat.“Sandra, kamu berani mengancamku?!”Suara Ben terdengar berubah karena campuran marah dan takut.“Aku tidak mengancammu.”Aku menyingkap selimut, turun dari ranjang perlahan, lalu memakai sepatu.Setiap langkahku mantap.“Aku hanya menyampaikan sebuah fakta.”“Apa yang barusan kamu katakan sudah cukup membuatmu kalah telak d

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 4

    Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ben tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia menyetir tanpa menoleh, seolah orang yang duduk di sampingnya hanyalah orang asing yang tidak ada artinya.Di bawah tubuhku, ia melapisi kursi dengan beberapa alas pipis hewan peliharaan, takut aku mengotori jok mobilnya.Ia bahkan membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin menerpa masuk, membuatku menggigil.Katanya, bau darah di tubuhku membuatnya ingin muntah.Setelah sampai di rumah sakit, ia menyelesaikan administrasi dengan cepat, lalu meninggalkanku sendirian di kamar pasien.Seolah-olah sedang membuang beban yang tak tertahankan.Tapi untungnya, anakku selamat.Entah berapa lama berlalu, pintu kamar pasien terbuka.Aku kira itu Ben.Saat mengangkat kepala, yang kulihat justru wajah yang paling tak ingin kulihat.Lina.Di tangannya ada termos makanan, di wajahnya tersungging senyum lembut yang tampak sempurna.“Kak Ben mendadak ada urusan penting di kantor, dia tidak bisa datang. Jadi dia menyur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status