Share

Bab 4

Author: Flashback
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ben tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Ia menyetir tanpa menoleh, seolah orang yang duduk di sampingnya hanyalah orang asing yang tidak ada artinya.

Di bawah tubuhku, ia melapisi kursi dengan beberapa alas pipis hewan peliharaan, takut aku mengotori jok mobilnya.

Ia bahkan membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin menerpa masuk, membuatku menggigil.

Katanya, bau darah di tubuhku membuatnya ingin muntah.

Setelah sampai di rumah sakit, ia menyelesaikan administrasi dengan cepat, lalu meninggalkanku sendirian di kamar pasien.

Seolah-olah sedang membuang beban yang tak tertahankan.

Tapi untungnya, anakku selamat.

Entah berapa lama berlalu, pintu kamar pasien terbuka.

Aku kira itu Ben.

Saat mengangkat kepala, yang kulihat justru wajah yang paling tak ingin kulihat.

Lina.

Di tangannya ada termos makanan, di wajahnya tersungging senyum lembut yang tampak sempurna.

“Kak Ben mendadak ada urusan penting di kantor, dia tidak bisa datang. Jadi dia menyuruhku menemanimu.”

“Ini sup ayam hitam yang Kak Ben masak sendiri untukku. Kebetulan masih tersisa sedikit. Makanlah selagi hangat, bagus untuk bayi.”

Ia membuka tutupnya.

Aroma pekat langsung memenuhi seluruh ruangan.

Dulu, aku paling suka sup ayam hitam buatan Ben.

Tapi sekarang, yang kurasakan hanya mual.

“Bawa pergi,” ucapku dingin.

“Kamu tidak disambut di sini. Silakan keluar.”

Kata-kataku akhirnya merobek topeng kepura-puraan milik Lina.

Senyum di wajah Lina seketika menghilang.

Ia mendekat ke telingaku, kemudian berbicara dengan suara yang berubah dingin, “Sandra, kamu pikir kamu siapa?”

“Bergantung pada janin haram di perutmu itu, kamu pikir bisa menduduki posisi Nyonya Harsono seumur hidup?”

“Yang paling disukai Kak Ben itu aku. Sedangkan kamu, sampah yang hanya tahu menempel dan jadi benalu, lebih pantas mati saja.”

Setiap kata yang diucapkan Lina seperti pisau yang menusuk tepat ke jantungku.

Aku gemetar karena marah dan mengangkat tangan hendak menamparnya.

Namun gerakanku yang kikuk dengan mudah dihindari Lina.

Pada saat yang sama, mangkuk sup di tangannya ikut terbalik.

Kuah panas yang mendidih langsung menyiram punggung tanganku.

“Ah!”

Sakit!

Rasa perih yang luar biasa membuatku menjerit.

Punggung tanganku memerah dan membengkak dengan cepat, perihnya menyengat seperti terbakar.

Tepat pada saat itu, pintu kamar didorong terbuka dengan keras.

Ben bergegas masuk.

Lina seketika memeras air mata, wajahnya penuh kepanikan.

“Kak Ben! Maaf! Aku tidak sengaja!”

“Kakak tiba-tiba mendorongku, aku kehilangan keseimbangan lalu .…”

“Aku benar-benar tidak sengaja.”

Tangisan Lina begitu menyedihkan, tampak lemah dan patut dikasihani.

Aku bahkan belum sempat membuka mulut untuk menjelaskan, Ben sudah lebih dulu berlari ke arahku.

Bukan untuk memeriksa lukaku.

Melainkan mengangkat tangan dan menamparku keras.

“Sandra! Keributan apa lagi yang kamu perbuat?!”

Tamparan itu membuat pandanganku berkunang-kunang, telingaku berdengung.

“Lina datang dengan niat baik menjengukmu, dan kamu malah memperlakukannya seperti ini?!”

Ben pun mendorong tubuhku dari ranjang dengan kasar, sama sekali tak peduli bahwa aku adalah ibu hamil yang baru saja hampir keguguran.

Lalu ia menarik Lina dengan cemas, menggenggam tangan wanita itu dan meniupnya pelan-pelan dengan penuh perhatian.

Sementara aku yang benar-benar tersiram kuah panas, dibuangnya seperti barang tidak berharga.

Rasa perih di punggung tanganku menusuk tulang.

Namun seberapa pun sakitnya luka itu, masih kalah dari rasa sakit di hatiku.

“Ben.”

Aku bersuara, tenggorokanku kering dan serak.

“Kamu buta?”

“Yang tersiram itu aku!”

Ben akhirnya menoleh sekilas.

Tatapannya dingin, penuh rasa jijik dan ketidaksabaran.

“Itu juga salahmu sendiri! Siapa suruh kamu lebih dulu menyerangnya?”

“Sandra, aku benar-benar sudah muak padamu! Sekarang juga minta maaf pada Lina!”

Minta maaf?

Dia menyuruhku meminta maaf kepada selingkuhannya?

Aku menatap Ben dan bertanya dengan jelas, pelan namun tegas, “Kalau aku tidak mau?”

Kesabarannya benar-benar habis.

“Sandra, ini peringatan terakhirku. Minta maaf!”

“Kalau tidak, kita langsung urus perceraian sekarang juga!”

“Kamu dan anak sialan di perutmu itu, jangan harap dapat satu sen pun!”

“Aku akan membuatmu cerai tanpa membawa harta apa-apa! Kusingkirkan kamu dari kota ini, biar seumur hidup kamu hidup di selokan!”

Kalimat Ben menghancurkan sisa harapan terakhir di hatiku.

Aku memandang wajahnya yang terdistorsi oleh amarah.

Lalu kulihat wanita di belakangnya, Lina yang bersembunyi dalam pelukannya, memberiku senyum kemenangan.

Perlahan-lahan, aku menegakkan tubuhku.

Kutundukkan kepala, membelai lembut perutku yang membesar.

Kemudian aku mengangkat wajah dan menatapnya dengan tenang.

“Ben, di dalam sini adalah darah dagingmu sendiri.”

“Kamu yakin, demi dia, kamu mau sampai sejauh ini?”

Ben tertawa dingin, merapatkan pelukannya pada Lina.

“Darah dagingku?”

“Heh, wanita yang bisa melahirkan anak itu banyak.”

“Tapi Lina hanya ada satu di dunia.”

Aku mengangguk pelan.

Lalu perlahan, kuangkat tangan kiriku.

Tangan yang tidak tersiram air panas.

Di genggamanku ada sebuah alat perekam kecil.

Saat aku mengajukan pertanyaan terakhir tadi, aku sudah menekan tombol rekam.

Sekarang, tepat di depan mereka berdua, aku menekan tombol berhenti.

Lampu indikator merah berkedip sekali, lalu mati.

Aku pun menatapnya dan tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Setiap kata yang barusan kamu ucapkan sudah terekam.”

“Kita bisa bercerai. Tapi sepertinya yang tidak mendapatkan satu sen pun adalah kamu.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 9

    Kehidupan setelah perceraian ternyata lebih tenang dari yang aku bayangkan.Ben menepati isi perjanjian itu.Rumah dan mobil telah dialihkan atas namaku.Tiga puluh persen saham perusahaan juga dipindahkan kepadaku.Dalam semalam, dari seorang ibu rumah tangga yang bergantung pada orang lain, aku berubah menjadi wanita kaya yang punya aset besar.Aku tidak tinggal di kota yang penuh kenangan buruk itu.Aku menjual rumah tersebut, membawa uang dalam jumlah besar itu, dan kembali ke kota tempat orang tuaku tinggal.Dengan uang itu, aku membeli sebuah apartemen luas di tempat aku dibesarkan.Aku pun mengajak orang tuaku tinggal bersama.Sisa uangnya, aku gunakan untuk mendirikan studio investasi kecil.Aku berinvestasi di bidang yang kukenal dan kuasai.Setiap hari terasa sibuk namun bermakna.Bayi di dalam kandunganku juga tumbuh hari demi hari, gerakan tendangannya semakin kuat.Seolah memberi tahuku bahwa dia baik-baik saja.Sesekali, dari Kiara aku mendengar kabar tentang Ben dan Lina

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 8

    “Kesempatan?”Aku menatap Ben dengan sinis dari atas.“Kurang banyak apa kesempatan yang sudah kuberikan padamu?”“Saat aku hamil dan muntah-muntah, saat aku paling membutuhkanmu, di mana kamu?”“Saat aku dipersulit ibumu dan dihina selingkuhanmu, di mana kamu?”“Saat aku kamu dorong hingga hampir keguguran dan terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, apa yang kamu lakukan?”“Kamu membela selingkuhanmu, menyalahkanku karena membuat keributan, bahkan sampai memukulku.”Setiap satu kalimat yang kuucapkan beriringan dengan kepala Ben yang semakin tertunduk.Wajah ibu mertuaku juga semakin muram.“Aku sudah memberimu kesempatan.”“Sayangnya, kamu tidak pernah menghargainya.”Setelah itu, aku kembali mendorong pena dan surat perjanjian cerai ke hadapan Ben.“Tanda tangani ini.”“Ini jalan terbaikmu, dan satu-satunya jalan keluar.”Pengacara Ben saat ini juga sudah sepenuhnya menyerah.Ia mendekat ke telinga Ben dan berbisik pelan, “Pak Ben, tanda tangani saja. Selama kita berhasil sela

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 7

    Keesokan harinya, aku berdandan dengan rapi.Saat aku muncul di ruang rapat Kantor Pengacara Deril, Ben dan ibu mertuaku sama-sama terpaku kaget.Mungkin mereka mengira akan melihat seorang istri terlantar yang kurus kering dan menangis setiap hari.Tapi yang mereka lihat justru aku yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya, bahkan … lebih kuat.“Sandra .…” Ben ingin maju untuk menarikku.Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Jangan sentuh aku.”Aku menatapnya dan mengulangi kata-kata yang dulu pernah ia ucapkan padaku.“Aku jijik padamu, kamu kotor.”Wajahnya langsung pucat pasi. Tangan yang terulur itu menggantung canggung di udara.Ibu mertuaku melihat situasi itu dan segera maju.“Sandra! Sikap apa itu! Ben sudah baik-baik datang menjemputmu, jangan tidak tahu diri!”Kiara melangkah maju dan berdiri di depanku.“Nyonya, tolong jaga ucapan Anda.”“Sekarang klien saya sedang membicarakan perceraian dengan putra Anda. Jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi, silakan keluar

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, aku benar-benar mengasingkan diri dari dunia.Ponselku tetap mati. Setiap hari, selain makan dan tidur, aku hanya berhubungan satu jalur dengan Kiara.Efisiensi Kiara sangat tinggi.Ia dengan cepat menemukan semuanya.Transfer 400 juta itu penerimanya adalah sepupu laki-laki Lina.Sehari setelah uang masuk, Lina membayar uang muka sebuah apartemen di kompleks paling mewah di pusat kota.Dan Ben ... bukan hanya memberinya 400 juta itu.Detektif swasta yang disewa Kiara menemukan bahwa dalam setengah tahun terakhir, Ben memanfaatkan jabatannya untuk menggelapkan dana dari perusahaan keluarganya sendiri dengan alasan penggantian biaya fiktif dan dana proyek palsu.Jumlahnya hampir 6 miliar.Dan sebagian besar uang itu mengalir ke Lina dan keluarganya.Ini bukan lagi sekadar kasus perselingkuhan dalam pernikahan.Ini penggelapan dana, penyalahgunaan jabatan, kejahatan bisnis.Ketika Kiara meletakkan setumpuk dokumen tebal di depanku, aku justru merasa tenang.“S

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 5

    Ekspresi di wajah Ben langsung membeku.Barangkali dalam mimpinya pun ia tak menyangka, di saat seperti ini aku masih menyimpan satu langkah cadangan.“Kamu!”Refleks ia menerjang ke depan, merebut alat perekam itu dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping.Melihat ekspresi lega di wajahnya, aku justru tertawa pelan.“Ben, kamu pikir aku bodoh?”“Itu cuma salinan. Saat aku menekan tombol berhenti tadi, rekamannya sudah otomatis terunggah lewat Bluetooth ke penyimpanan pribadiku.”“Dan juga diamankan dengan sandi. Di dunia ini, hanya aku yang tahu kata sandinya.”Sejak aku menghubungi Kiara, aku sudah mempersiapkan perceraian yang mungkin terjadi setiap saat.“Sandra, kamu berani mengancamku?!”Suara Ben terdengar berubah karena campuran marah dan takut.“Aku tidak mengancammu.”Aku menyingkap selimut, turun dari ranjang perlahan, lalu memakai sepatu.Setiap langkahku mantap.“Aku hanya menyampaikan sebuah fakta.”“Apa yang barusan kamu katakan sudah cukup membuatmu kalah telak d

  • Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal   Bab 4

    Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ben tidak mengucapkan sepatah kata pun.Ia menyetir tanpa menoleh, seolah orang yang duduk di sampingnya hanyalah orang asing yang tidak ada artinya.Di bawah tubuhku, ia melapisi kursi dengan beberapa alas pipis hewan peliharaan, takut aku mengotori jok mobilnya.Ia bahkan membuka jendela, membiarkan angin malam yang dingin menerpa masuk, membuatku menggigil.Katanya, bau darah di tubuhku membuatnya ingin muntah.Setelah sampai di rumah sakit, ia menyelesaikan administrasi dengan cepat, lalu meninggalkanku sendirian di kamar pasien.Seolah-olah sedang membuang beban yang tak tertahankan.Tapi untungnya, anakku selamat.Entah berapa lama berlalu, pintu kamar pasien terbuka.Aku kira itu Ben.Saat mengangkat kepala, yang kulihat justru wajah yang paling tak ingin kulihat.Lina.Di tangannya ada termos makanan, di wajahnya tersungging senyum lembut yang tampak sempurna.“Kak Ben mendadak ada urusan penting di kantor, dia tidak bisa datang. Jadi dia menyur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status