Bab 33Setelah mengantarkan Samudera, Seraphine kembali ke mode CEO yang dingin di kantor kebesarannya. Pukul delapan pagi, ia sudah duduk tegak di kantornya, memimpin rapat terkait ekspansi klinik di Surabaya dengan ketegasan yang biasanya. Namun, saat ia melirik ke arah jam digital di kantornya, fokusnya sedikit goyah. Gema kalimat “I love you” yang terus berputar seperti piringan hitam rusak di kepalanya, ia mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen ekspansi klinik, berusaha bersikap seolah semuanya normal.Namun, ketenangan itu hancur saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang.Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan formal. Alice Wicaksana melangkah masuk dengan anggun, mengenakan kacamata hitam dari lini terbaru desainer ternama dan tas tangan yang harganya bisa membeli satu unit mobil menengah."Seraphine, Sayang! Oh my God, menantuku yang malang," Mama Alice langsung menghambur dan memeluk Seraphine erat, memberikan kecupan di kedua pipinya sebelum Seraphine sempat
Read more