LOGINBegitu bus berhenti di depan sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair, Samudera tidak lantas bisa bersantai. Sebagai leader, tanggung jawabnya berlipat ganda. Saat member lain mulai berebut mengambil koper dan kunci kamar, Samudera langsung ditarik oleh Manajer Lee dan tim produksi lokal."Sam, ada perubahan sedikit untuk tata panggung di O2 Arena. Kita harus bahas ini sekarang sebelum makan malam," ujar Manajer Lee sambil menunjukkan tabletnya.Samudera mengangguk profesional. Ia mengikuti tim ke ruang fungsional hotel. Di sana, ia disibukkan dengan berbagai detail teknis: posisi lighting yang harus disesuaikan dengan koreografi lagu terbaru mereka, transisi VCR, hingga pengaturan audio untuk bagian solonya.Pikirannya terbagi. Di satu sisi, ia adalah musisi perfeksionis yang tidak mau ada cacat sedikit pun dalam tur ini. Di sisi lain, tangannya gatal ingin memeriksa ponsel, memastikan apakah Seraphine sudah membalas pesannya atau sedang asyik "menguras" limit kartunya di Orchard Road.
Bab 33Setelah mengantarkan Samudera, Seraphine kembali ke mode CEO yang dingin di kantor kebesarannya. Pukul delapan pagi, ia sudah duduk tegak di kantornya, memimpin rapat terkait ekspansi klinik di Surabaya dengan ketegasan yang biasanya. Namun, saat ia melirik ke arah jam digital di kantornya, fokusnya sedikit goyah. Gema kalimat “I love you” yang terus berputar seperti piringan hitam rusak di kepalanya, ia mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen ekspansi klinik, berusaha bersikap seolah semuanya normal.Namun, ketenangan itu hancur saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang.Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan formal. Alice Wicaksana melangkah masuk dengan anggun, mengenakan kacamata hitam dari lini terbaru desainer ternama dan tas tangan yang harganya bisa membeli satu unit mobil menengah."Seraphine, Sayang! Oh my God, menantuku yang malang," Mama Alice langsung menghambur dan memeluk Seraphine erat, memberikan kecupan di kedua pipinya sebelum Seraphine sempat
Bab 32Samudera menutup pintu mobilnya dengan helaan napas berat. Ia berdiri sejenak di samping mobil, merapikan penampilannya sejenak dan menarik napas panjang udara pagi Jakarta yang lembap. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas besar berisi paket-paket yang sudah disiapkan oleh Seraphine semalam.Begitu Samudera mendekat ke arah kerumunan member, suasana langsung pecah. Dua belas pria dengan visual luar biasa yang sedang mengantuk itu mendadak segar saat melihat pemimpin mereka datang dari arah mobil pribadi, bukan dari asrama."Woy! Pengantin baru dateng!" teriak Daksa suaranya yang menggelegar membuat beberapa staf menoleh. Ia langsung menghampiri Samudera dengan gaya hiperaktifnya yang khas.“Gimana, Bang? Berat ya kakinya mau ngelangkah?” goda Sekala."Gila ya, Bang Sam. Gue kira lo bakal telat karena... ya tahu sendirilah, tenaga abis buat yang lain," goda Mahesa, menyeringai lebar sambil memamerkan tinggi badannya yang menjulang di samping Samudera.Samudera mendengus, namun
Alarm di nakas kamar mereka, berbunyi tepat pukul 04.00 pagi. Samudera adalah yang pertama kali membuka mata. Ia tidak langsung mematikan alarm, melainkan menatap langit-langit kamar sejenak. Menyadari bahwa dalam hitungan jam, ia tidak akan lagi mencium aroma vanilla dan sandalwood yang kini menjadi candunya. Samudera menoleh pada wanita di pelukannya. “Sera… bangun, Sayang,” bisik Samudera tepat di telinga istrinya. Kemudian Samudera mengecup bahu Seraphine yang terbuka. Seraphine mengerang pelan. Ia bergerak sedikit, meringis saat otot-otot di pinggang dan pahanya memprotes gerakan tiba-tiba itu. Memori tentang "malam perpisahan" yang brutal namun manis semalam seketika membanjiri otaknya, membuat wajahnya panas meski hari masih buta. Seraphie membuka mata perlahan. “Jam berapa?” "Jam empat lewat sedikit. Gue harus di agensi jam enam buat kumpul bareng anak-anak sebelum ke bandara," Samudera mengusap pipi Seraphine lembut. "Gue yang nyetir ke agensi, atau lo mau Pak Nanang y
Lampu tidur di sudut ruangan masih menyisakan pendar jingga yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di langit-langit kamar. Suasana hening, hanya ada deru halus AC dan suara napas Samudera yang mulai stabil di sampingnya. Namun, bagi Seraphine Swarna Kirana, keheningan ini justru terasa bising. Pikirannya berlarian seperti mesin yang kehilangan rem.Seraphine masih terjaga. Ia berbaring miring, membelakangi Samudera, meski lengan kokoh pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya, menarik tubuhnya untuk tetap menempel pada dada bidang yang hangat itu. Kulit mereka masih bersentuhan, menyisakan jejak-jejak panas dari pergulatan intens beberapa saat lalu.“Apa yang baru aja gue lakuin?”Pertanyaan itu berputar berkali-kali di kepalanya. Seraphine, CEO dingin dalam negosiasi bisnis, kini merasa asing dengan dirinya sendiri.Ia menatap lengan Samudera di perutnya.Dua kali.Dalam rentang kurang dari seminggu, ia telah menyerahkan benteng pertahanannya kepada pria
Samudera menunduk, mulai mencium istrinya. Awalnya, ciuman itu terasa seperti sebuah tantangan—kasar dan penuh tuntutan. Seraphine sempat menahan napas, tangannya mengepal di kemeja Samudera, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya. Namun, saat lidah Samudera menyapu bibirnya, pertahanan itu runtuh seketika.Seraphine membalas. Ia bukan tipe wanita yang pasif. Jemarinya naik ke tengkuk Samudera, menarik pria itu lebih dalam ke dalam pagutannya. Suara kecipak halus memenuhi keheningan kamar, bercampur dengan napas mereka yang mulai memburu. Ciuman itu berpindah, turun ke rahang tegas Samudera, lalu ke leher jenjang Seraphine yang selalu menjadi titik lemahnya."Sam... pelan-pelan..." gumam Seraphine hampir tidak terdengar saat tangan Samudera mulai menanggalkan pakaian yang menghalangi kulit mereka.Keringat bercucuran di pelipis Samudera. Di bawahnya, Seraphine tampak cantik sekali dengan pipinya yang merona, bibirnya yang bengkak karena ciuman-ciuman menuntut, dan matanya sayu.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Samudera baru saja menutup laptopnya setelah menyelesaikan beberapa urusan agensi. Ia menoleh kea rah ranjang, menatap Seraphine yang tampat tidur sangat nyenyak.Sudah tiga jam Seraphine istirahat, tetapi Samudera tidak mempermasalahkannya. Seraphine
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di
Kamar utama itu terlihat sangat berantakan. Pakaian yang ditanggalkan dengan buru-buru berserakan di lantai—jaket Samudera di sudut ruangan, kemeja sutra Seraphine yang malang tergeletak di dekat kaki ranjang, dan sprei abu-abu yang kusut dan keluar dari selipan kasurnya.Seraphine bangun bukan kar
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan







