Seraphine terengah di bawah kungkungan tubuh Samudera, dadanya naik turun dengan cepat, tidak beraturan. Rambutnya yang berantakan tersebar di atas sprei sutra abu-abu. “Sam… lepas… ini udah kelewatan,” gumam Seraphine, suaranya parau antara pengaruh alkohol dan debaran jantung yang menggila. Ia mencoba mendorong bahu Samudera menjauh, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. "Gue udah bilang, Sera. Malam ini nggak ada kata tunggu," balas Samudera, suaranya serak, rendah, dan penuh otoritas. “Dan setelah semua yang lo omongin tadi, gue bakal tunjukin siapa yang berhak atas lo malam ini.” "Gue nggak mau!" Seraphine memberontak lagi, mencoba memutar tubuhnya untuk turun dari ranjang. Ia sempat berhasil merangkak ke tepian, namun dengan satu gerakan kilat, tangan besar Samudera menangkap pergelangan kakinya dan menariknya kembali ke tengah ranjang dengan kekuatan yang mutlak. "Aakh! Sam, sakit!" pekik Seraphine saat tubuhnya terseret kembali. Samudera segera mengunci kedua ta
Read more