Seraphine terdiam, namun matanya masih berkilat penuh emosi yang campur aduk. Ia bisa merasakan deru napas Samudera yang stabil, sangat kontras dengan detak jantungnya yang berpacu cepat sejak tadi. “Lo gila,” desis Seraphine akhirnya, suaranya sedikit bergetar. “Lo pikir dengan duit segini, lo bisa beli jam tidur gue? Lo pikir dengan transfer uang segitu, lo bisa seenaknya mengabaikan aturan yang udah kita sepakati? Gue bikin barikade itu bukan buat gaya-gayaan, Sam. Itu buat kenyamanan kita berdua.” Samudera tidak bergeming, ia justru memajukan wajahnya. “Kenyamanan siapa, Sera? Kenyamanan lo yang kedinginan semalam sampai harus nyari panas tubuh gue? Atau kenyamanan gue yang harus kaku kayak patung karena takut lo bangun?" Seraphine membuang muka, tidak sanggup menatap mata tajam Samudera. "Kalau kayak gini terus, kalau lo nggak bisa jaga tangan lo dan terus-terusan pakai alibi 'nggak sadar' atau 'bayar denda', mending kita pisah kamar aja deh. Beneran. Gue bakal pindah ke kamar
Read more