"Orang-orang yang menciptakan kakekku."Deru mesin kapal motor cepat itu meredam isak tangis Valerie yang tertahan. Di belakang mereka, asap hitam dari ledakan Pulau Seribu membubung tinggi, mengotori langit fajar yang mulai memerah. Arka duduk menyandar di kursi penumpang yang empuk, napasnya pendek-pendek. Luka di bahunya kembali terbuka, darah hangat merembes menembus kemeja hitamnya, menciptakan sensasi perih yang membakar setiap kali kapal menghantam ombak.Di sampingnya, sang Ibu masih memeluk boneka lusuhnya. Matanya kosong, menatap buih laut yang ditinggalkan kapal. Ia tidak takut pada ledakan tadi, ia tidak takut pada darah anaknya; ia seolah-olah sudah mati di dalam, menyisakan raga yang hanya bisa bernapas."Arka, kau harus segera ke rumah sakit. Darahmu tidak berhenti mengalir," Valerie mencoba meraih tangan Arka, namun Arka menariknya menjauh."Tidak ke rumah sakit umum," suara Arka serak, matanya menatap tajam ke arah cakrawala Jakarta yang mulai terlihat samar di kejauh
Read more