Kapsul darurat itu terombang-ambing di atas permukaan Laut Cina Selatan seperti peti mati logam yang terbakar matahari. Di dalamnya, udara terasa pengap, berbau keringat, sisa air laut yang menguap, dan feromon yang kental. Arka Adiwangsa duduk bersandar pada dinding kapsul yang sempit, napasnya berat dan teratur. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Bima yang masih terbaring tak berdaya di sudut, sementara Valerie duduk di pangkuannya, mencari kehangatan di tengah AC kapsul yang mulai gagal berfungsi.Dunia mengira mereka telah hancur bersama The Leviathan di kedalaman palung, namun maut tampaknya belum berani menjemput sang Predator. Arka membelai rambut Valerie yang masih lembap karena air garam. Pakaian Valerie yang basah kini menempel seperti kulit kedua, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang menggoda di bawah lampu darurat merah yang berkedip."Kita hampir sampai di koordinat pulau itu, Arka," bisik Valerie. Suaranya serak, tangannya meray
Read more