แชร์

Bab 15 Asli dan Palsu

ผู้เขียน: Beya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-05 11:51:55

"Aku berdiri tepat di depanmu, Arka."

Hening yang menyergap aula besar itu terasa lebih menyesakkan daripada rentetan tembakan sebelumnya. Arka berdiri mematung, pistol di tangannya terasa mendingin, sementara matanya tak lepas dari sosok pria berjubah hitam yang baru saja melumpuhkan seluruh penjaga di ruangan itu.

Pria itu memiliki garis wajah yang identik dengan pria di kursi roda, namun auranya jauh lebih tajam, lebih tenang, dan membawa beban wibawa yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 82: Rahim Kehampaan

    Gedung spiral Eden di bawah Palung Mariana kini tidak lagi memancarkan cahaya biru ketenangan. Seluruh strukturnya bergetar dengan frekuensi rendah yang membuat air laut di sekelilingnya mendidih. Di pusat aula kaisar, Valerie Adiwangsa berbaring di atas altar kristal hitam yang dikelilingi oleh ribuan kabel saraf organik. Zirah obsidiannya telah dilepaskan, menyisakan tubuhnya yang hanya dibalut kain sutra transparan, memperlihatkan perutnya yang kini membusung dengan kecepatan yang menentang hukum alam. Kulit perutnya tidak lagi berwarna porselen; ia transparan seperti kaca gelap, memperlihatkan gumpalan energi ungu dan hitam yang berputar-putar di dalamnya—sebuah janin yang tidak memiliki bentuk fisik, melainkan sebuah pusaran kehampaan yang terus meluas.Setiap kali janin itu berdenyut, seluruh sistem komputer Eden mengalami kegagalan fungsi. Valerie mengerang, cengkeraman tangannya pada tepian altar kristal begitu kuat hingga material keras itu retak. Ke

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 80: Kedatangan Para Pembuang

    Langit Bumi yang baru saja tertutup oleh selubung hitam protokol Total Eclipse mendadak terbelah oleh kilatan cahaya putih yang tajam dan menyakitkan. Bukannya ungu nebula atau hitam Abyssal, cahaya ini terasa murni, dingin, dan menghakimi—seperti mata pisau yang membedah kegelapan.Di pusat orbit Bumi, tiga struktur raksasa berbentuk tombak kristal muncul dari pelipatan ruang-waktu. Mereka adalah armada The Outcasts, ras Primordial purba yang ribuan tahun lalu memilih untuk membuang emosi dan nafsu mereka demi mencapai bentuk kesadaran cahaya yang absolut. Mereka adalah musuh alami dari segala sesuatu yang berdenyut dengan gairah dan obsesi.Di dalam jantung Eden, Arka Adiwangsa berdiri di balkon observasi, matanya yang memiliki tiga lingkaran emas berkilat dengan kebencian yang mendalam. Ia merasakan kehadiran mereka bukan sebagai ancaman militer, melainkan sebagai penghinaan terhadap eksistensinya. Bagi The Outcasts, Arka adalah kegagalan evo

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 81: Janda Sang Kaisar

    Langit di atas Palung Mariana tidak lagi memancarkan cahaya putih yang menghakimi dari The Outcasts, namun ia juga tidak kembali menjadi biru yang ramah. Atmosfer bumi kini terjebak dalam warna abu-abu metalik, sebuah kanvas kelabu yang mencerminkan kekosongan di singgasana Eden. Debu hitam—sisa-sisa energi Void yang dilepaskan Arka saat ia melesat menembus dimensi cahaya—masih turun perlahan seperti salju beracun, menutupi permukaan samudra dengan lapisan jelaga yang berpendar ungu redup.Valerie Adiwangsa berdiri sendirian di balkon tertinggi gedung spiral Eden. Jubah permaisurinya yang megah kini telah digantikan oleh zirah kaisar milik Arka yang ia kecilkan secara molekuler agar pas di tubuhnya. Zirah obsidian itu terasa dingin, namun bagi Valerie, kedinginan itu adalah pelukan terakhir dari suaminya yang hilang. Ia tidak menangis. Matanya yang memiliki cincin hitam di sekeliling pupil ungunya menatap horison dengan tajam, mencari tanda-tanda ro

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 79: Gema Pengkhianatan

    Eden tidak lagi bernapas dengan irama yang tenang. Sejak Arka menyerap esensi The Void Gazer di balik bulan, atmosfer di dalam kubah bawah laut itu terasa berat, seolah-olah molekul oksigennya sendiri telah digantikan oleh partikel kegelapan yang menekan paru-paru. Dinding-dinding kristal yang biasanya berpendar ungu kini memancarkan pantulan hitam legam yang tidak memantulkan cahaya. Di pusat singgasana, Arka Adiwangsa duduk diam dengan mata terpejam, namun kesadarannya sedang merayap di seluruh penjuru bumi, merasakan setiap detak jantung manusia yang tersisa seperti ribuan instrumen yang menunggu untuk ia mainkan.Di kamar pribadi kaisar, Valerie Adiwangsa terbangun dengan sentakan hebat. Keringat dingin membasahi kulit porselennya yang kini tampak lebih pucat dari biasanya. Ia menoleh ke samping, menemukan tempat tidur yang kosong. Rasa dingin yang ditinggalkan Arka di sprei satin itu terasa seperti es yang membeku. Valerie menyentuh dadanya; ia

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 78: Mata di Balik Bulan

    Bulan tidak lagi tampak seperti bola perak yang tenang di langit malam. Di bawah pengaruh gravitasi The Void Gazer, permukaan bulan mulai retak, menyingkapkan sebuah struktur obsidian raksasa yang telah terkubur di bawah kawah-kawahnya selama jutaan tahun. Objek itu bukan sekadar kapal; itu adalah sebuah organ sensorik raksasa—sebuah "Mata" yang terbuat dari materi gelap murni yang berdenyut dengan frekuensi yang sanggup mematikan kesadaran manusia dalam radius jutaan kilometer. Seluruh langit Bumi kini berubah menjadi ungu kehitaman, seolah-olah ruang angkasa sedang memar akibat tekanan dari dimensi lain.Di dalam pusat komando Eden, Arka Adiwangsa berdiri mematung. Tubuhnya kini memancarkan aura hitam yang pekat, hasil dari resonansi paksa dengan The Void Gazer. Setiap kali "Mata" itu berkedip di langit, Arka merasakan tarikan yang menyakitkan di sumsum tulangnya—seolah-olah esensi Abyssal yang ia telan dari dasar laut sedang mencoba merobek

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 77: Pasukan Bayangan Adiwangsa

    Suasana di dalam aula utama Eden kini berubah drastis. Cahaya ungu yang biasanya hangat dan menenangkan telah digantikan oleh pendaran monokromatik yang dingin—hasil dari integrasi energi Abyssal yang diserap Arka dari dasar Palung Mariana. Dinding-dinding kristal yang tadinya transparan kini tampak seperti obsidian yang dipoles, memancarkan aura yang sanggup menekan detak jantung siapa pun yang tidak memiliki gen Primordial murni. Arka Adiwangsa duduk di singgasananya, namun ia tidak lagi tampak seperti manusia yang berevolusi; ia tampak seperti dewa kegelapan yang sedang menenun takdir baru bagi planet ini.Di sampingnya, Valerie berdiri dengan keanggunan yang lebih tajam. Rambut peraknya kini memiliki guratan hitam legam di ujungnya, dan matanya tidak lagi hanya berwarna ungu, melainkan memiliki cincin hitam yang terus berputar seperti pusaran air. Gaun lateks hitamnya berpendar dengan cahaya dingin, menempel di tubuhnya seperti kulit kedua yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status