Xavier tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka melewati gerbang bandara pribadi. Ia hanya menatap kosong ke luar jendela, memperhatikan gumpalan awan yang mulai memerah tertimpa cahaya matahari terbenam.Ayla meremas jemarinya sendiri, sesekali melirik bekas lebam di pergelangan tangannya akibat cengkeraman Xavier tadi.“Xavier,” panggilnya lirih. “Makhluk-makhluk di jalan tadi... mereka bukan serigala biasa, kan? Ukuran mereka, mata mereka... itu tidak masuk akal.”Xavier tidak langsung menoleh. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang kaku di wajahnya yang pucat.“Sudah kubilang, itu hanya anjing hutan rabies yang kelaparan. Pegunungan ini liar, Ayla. Jangan membesar-besarkan sesuatu yang hanya insting hewan.”“Anjing rabies tidak mundur hanya karena sebuah teriakan, Xavier! Kau menggeram seperti... seperti sesuatu yang bukan manusia!” nada suara Ayla meninggi, rasa frustrasinya meluap.Xavier akhirnya menoleh, matanya hitam kelam, tanpa sisa warna emas yang tadi men
Read more